Kuroshio Sea: Not your ordinary aquarium

[vimeo http://www.vimeo.com/5606758 w=575&h=400]

 

 

Beautiful, beautiful, beautiful video. It’s simply breathtaking. I know some people might think it looks like their screensaver. But the fact that it’s a real aquarium, the world’s second largest, is just amazing.

In case you’re wondering, it’s the Okinawa Churaumi Aquarium. According to Wikipedia, it’s located within the Ocean Expo Commemorative National Government Park in Okinawa, Japan. As I mentioned before, it is the world’s second largest aquarium, right after Georgia Aquarium in Atlanta. The one you see in this video, is the main tank, Kuroshio Sea. It holds 7500 cubic metres of water and built from a 8,2 by 22,5 metres of an acrylic glasspanel with a thickness of 60 centimetres! To hold such big amount of water like that, no wonder this baby needs glasspanel as thick as that.

I don’t find any of Georgia Aquarium video in YouTube that as beautiful as this. I believe it’s because the filmmaker, Jon Rawlinson, shot it with a steady camera and put such a beautiful music on it. And he’s succeeded. The music makes it perfect, it’s Please Don’t Go by Barcelona.

Congratulation, Jon, for this superb video! And thank you to remind us about the beauty of mother nature.

 

P.S. Watch it full screen on a cinema display monitor to get an awesome experience of watching. And here’s a short interview with Jon about the video.

***

Please Don’t Go – Barcelona

All those arrows you threw, you threw them away
You kept falling in love, then one day
When you fell, you fell towards me
When you crashed in the clouds, you found me

Oh, please don’t go
I want you so
I can’t let go
For I lose control

Get these left handed lovers out of your way
They look hopeful but you, you should not stay
If you want me to break down and give you the keys
I can do that but I can’t let you leave
Oh, please don’t go
I want you so
I can’t let go
For I lose control

The Social Network: Bukan dinding pemujaan

Harus diakui, Facebook adalah salah satu hal yang mampu mengubah budaya sebagian besar manusia di seluruh dunia dalam berkomunikasi dan bersosialisasi. Fungsi dasar Facebook sebenarnya tak jauh berbeda dengan pendahulunya, Friendster, yaitu mendekatkan yang jauh, mempertemukan yang lama terpisah, ataupun menyambung yang telah terputus. Entah sudah berapa reuni yang terlaksana berkat Facebook, dan sudah berapa banyak pula para mantan pasangan yang kembali menjadi sepasang kekasih.

Terlepas dari hal-hal positif yang terjalin, Facebook juga sering disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. Banyak orang lupa kalau dunia maya adalah milik kita semua. Ibarat sebuah hunian yang seluruh dindingnya terbuat dari kaca. Semua orang bisa melihat dan mengetahui apa yang terjadi di dalam. Tidak sedikit karyawan yang dipecat karena menulis sesuatu yang dianggap tidak pantas tentang atasan atau kolega bisnis. Pun mereka yg diputuskan pasangan karena kepergok sedang bermesraan dengan orang lain.

Layaknya dua sisi koin, Facebook bisa membawa kebaikan dan keburukan. Frienemy, friend and enemy. Namun tetap, kontrol–seharusnya–ada di tangan pengguna: kita. Demi merayakan seluruh hal tersebut, saya berada dalam barisan (calon) penonton yang menanti dirilisnya film besutan David Fincher ini. Sudahi euforia The Curious Case of Benjamin Button, Fight Club, ataupun Se7en, dan mari menelanjangi privasi diri dan komuni dengan menonton The Social Network. Atas nama budaya populer, media sosial, hubungan interpersonal antarmanusia, atau sekadar voyeurisme belaka.