#6: Shit Happens

Lemotnya koneksi internet saat dibutuhkan, bisa terasa jauh lebih menyebalkan dibandingkan bertemu dengan mantan pacar yang playboy, sok ganteng, dan banyak omong.

Email penting yang gagal terkirim karena alamat yang dituju tidak benar, terkadang terasa lebih menggemaskan dibandingkan berhadapan dengan bocah badung yang kalau makan selalu belepotan di baju, lantai, dan karpet.

Lupa apa yang mau dituliskan atau diomongkan karena tidak sempat langsung dicatat, padahal tadi rasanya adalah sesuatu yang sangat brilian, mungkin terasa lebih mengesalkan dibandingkan adu argumen dengan orang-orang yang berlagak Tuhan dengan mempermainkan nasib orang lain—yang kebetulan tidak cukup beruntung terlahir dari keluarga mapan.

Apes, apes, apes.

Gambar: Jenny Saville dari sini.

#5: Gagal Maning

Saya sering dipanggil kalong karena suka begadang. Ditemani komputer dan minuman apapun—asalkan berwarna dan berasa. Jarang makan pagi, apalagi menegur matahari. Kebiasaan yang semakin menjadi saat libur tiba. Tidur ora tidur sing penting online. Awalnya seru, tapi lama-lama bikin sayu. Ditambah sakit kepala akibat bangun kesiangan. Masalahnya, sudah satu minggu ini saya kembali menjadi kalong. Tidur Subuh-bangun Dzuhur. Kebiasaan yang juga membuat geleng-geleng orang serumah. Mulai hari ini saya bertekad tidur lebih awal agar bisa bangun pagi. Selamat tinggal Batman dan teman-teman, saya mau hidup normal. Hmm.. oke, sekarang saatnya tidur mumpung masih jam.. eh sebentar, HAH, jam 03.57?!? Aaaarrggghhh…

#4: Hanya Memberi Tak Harap Kembali

 

Kemarin ruangrupa menjelma ibu. Ngakunya sih pameran, tapi menurut saya lebih mirip pasar seni—yang sebagian besar barangnya digratiskan. Ada stiker, kalender, dan poster. Hanya kurang burger yang bikin blenger. Pengunjung juga bisa membawa pulang kaos. Sablonnya gratis, kaosnya bayar. Tiga puluh ribu. Gambarnya nyentrik-nyentrik: tangan kembar siam tiga, bajaj warna-warni, labirin tak ada ujung, dan sebagainya. Bosan dengan gambar sablonan? Ooh.. Jangan khawatir! Seniman londo bernama Harry Sachs menawarkan opsi yang tak kalah menarik: menyetrika kaos sampai gosong! Setrika arangnya dibeli di Pasar Jatinegara. Setelah pakai, siap-siap diserbu ibu: “Memangnya nggak ada baju lain? Baju gosong kok masih dipake!”

 

#3: Kalah Lucu

Alkisah pelawak yang tak lagi dianggap lucu. Bukan oleh pemirsa setia di tanah air, tapi oleh kyai kondang seantero negeri. Sang pelawak mendadak kikuk, bingung harus merespon seperti apa. Yang ada di kepala hanya keawasan sang kyai akan kondisi dirinya yang sepi tawaran melawak. Dengan segala kerendahan hati dan kepahitan senyum yang tersungging, akhirnya ia berkata: “Iya Gus, sekarang memang lagi sepi order.” Sekarang, perlu kalian ingat, kalau soal melucu, kyai yang satu ini jawaranya. Jadi enyahkan pikiran bahwa ia sedang coba-coba meledek urusan rezeki orang. Tengok saja sahutannya,  “Bukan itu, tapi kamu sekarang kalah lucu sama anggota DPR.”

*Mengenang satu tahun wafatnya Gus Dur

Gambar: Swingtalk – Dadyka

#2: Soal Menikah

Dua tengah malam lalu ada diskusi seru. Tapi berujung jadi debat saru. Bukan soal moral atau porno yang bikin parno, tapi lembaga yang anggotanya cuma dua: pernikahan. Kata kang mas penyiar yang blasteran Jepang-Hawaii, mayoritas resepsi pernikahan di Indonesia cenderung boring. Dua keluarga mejeng berjam-jam dan para tamu yang sibuk antre untuk salaman. Narasumber yang suka pakai sendal Crocs tak mau kalah. Dia bilang, resepsi pernikahan di sini cenderung berarti pesta orangtua kedua mempelai. Tak heran jika jumlah undangan mencapai ribuan. Tengok saja pesta Bakrie yang lalu, katanya. Saya jadi penasaran, apa ya komentar peserta nikah massal tentang hal ini?