24/7 Bulan Ketiga

Oke pagi ini masak sarapan dan nyiapin bekal snack dan makan siang buat Senna. Bikin apa ya? Pasta atau nasi? Proteinnya ayam atau daging sapi? Telurnya diapain ya? Sayur, hmm ada wortel, brokoli, dan mixed veggies. Ya Allah, anak2 di Gaza bisa makan gak ya hari ini? Ayo Senna dimakan sarapannya! Jangan diemut, kita udah terlambat. Bel ini telurnya ada 3 buat siapa satu lagi? Oke, buat Senna udah saya pisahin. Ini tumblernya jangan ketinggalan. Masih belum ada update story baru dari Motaz. Bismillah, semoga dia dan yang lain selamat ya Allah. Yuk yuk lekas berangkat. I love you Senna, have fun! Sarapan buah naga, nyeduh air buat kopi… Oh shoot, ada meeting pagi jam 9. Mandi sekarang apa nanti ya? Nanti deh, sarapan dulu sambil nerusin 1 episode drakor kemarin. Israel bener-bener laknat, they did exactly the same what Nazi did to them back then. To do list hari ini banyak banget ya Allah. Keburu gak ya buat diberesin semua. Timeline berbarengan, ini prioritas, ini bukan. Lagi kayak gini gampang banget ngerasa hampa dengan yang lagi dikerjain. Ini lagi konvensi-konvensi internasional yang makin jadi kayak greenwashing aja. There’s no climate justice on occupied land. Meeting meeting meeting. Sholat, Slack, slack, whatsapp. Revisi, preview, baca, edit edit edit. Senna tolong rapikan lagi mainannya kalau udah selesai. Kecilin dikit dongengnya ibu gak kedengeran lagi meeting. Mana bisa ini diselesaiin semua hari ini??? Udah jam 3 aja, Motaz masih belum ada story baru ya Allaaahh. Bisan udah ada. Ambisi karier mereka apa ya kalau lagi gak dijajah gini. Apa nih, tawaran meeting jam 6? Of course declined. Maaf gak bisa karena itu waktu Magrib. Allahuakbar Allaaaaahuakbar. Senna ayo jamaah dulu. Senna udah tentuin mau baca surat apa belum? Senna jadi imam mau baca surat Al-Fiil sama Al-Quraisy bu. Oke. Assalamualaikum warahmatullah, assalamualaikum warahmatullah. Salim.. I love you Senna, I’m so proud of you. Ayo udah selesai mandi lanjut makan. Habiskan ya, jangan buang2 makanan. Astaghfirullah alaadziim… orang-orang pada kelaparan bisa-bisanya pasukan Israhell ini ninggalan segitu banyak bahan makanan, pakaian, dan sanitasi terbuang percuma!! Alhamdulillah Motaz update story baru!! Like, komen, klik copy link. Swipe, swipe, nangis, swipe. Komen nangis komen komen share. I’m exhausted. Semua yang dikerjain terasa percuma. Senna Pado pulang tuh. Bel, udah makan belum? Diangetin lagi aja makanannya. Senna ayo sikat gigi, ibu mau mandi soalnya. Jangan jalan-jalan sikat giginya. Fokus aja depan wastafel sambil hitung 20×2. Buuuu air panasnya udah tuh. Oke. Senna ganti baju tidur. Udah beresin buku belum? Besok ada pelajaran apa tuh? Gak ada satupun anak di Gaza yang sekolah. Baca dan ulangi lagi. Gak ada satupun anak yang bersekolah saat ini di Gaza. Astaghfirullah aladziim. Bye ibu, Senna tidur duluan. Oke sayang nanti ibu nyusul. Mandi sholat night skincare routine. Retinol, pelembap, spot treatment. Bel AC-nya kecilin ya, saya kedinginan. Hhh.. bisa rebahan juga akhirnya. Scroll scroll scroll marah. Like komen komen nangis. Copy link, komen, mengutuk dalam hati. Di sana lagi musim dingin, semoga mereka menemukan sedikit kehangatan di antara sesamanya. Cek kalender jadwal besok. Astaga ada meeting pagi dan sore lagi. Usap usap rambut Senna yang nyaris pulas. Bacain doa tidur Al-Fatihah dan berbisik. I love you, Senna. Ibu sayang Senna, Senna sayang ibu kan? Senna angguk perlahan sambil tetap tidur. Scroll scroll Instagram Tiktok Twitter swipe swzzzz……… Palestine will be free.

F(l)ight

How does your body respond to stress? Mine will be ‘eating’ as I find it very comforting. But for the sake of it, let’s make this post ✨professional✨ by sharing a work-related stress story.

I tend to have this ‘toxic’ trait where my way of combating stress is by adding more ‘stress’. Q4 was and will always be the most hectic working period, I know many of you will agree. I was swamped with work while at the same time also still juggling with situation at home, my son’s hybrid school schedule (2 days offline, 3 days online) and house chores (we decided to stop hire a part-time housekeeper as the second wave of Covid hit last July). So there’s only me, my husband, and my toddler. The stress level skyrocketed, and I needed a safe space to ‘escape’.

That’s when I ended up enrolling myself into some online professional certificate programs. The four weeks subjects, quizzes, and deadlines surely gave me additional pressure and adrenaline. But also joy and satisfaction as I gained new knowledge and hone my skills.

It’s a new thing for me. I know I’m always a visual (spatial) and verbal (linguistic) learner, but during the pandemic, I guess I’ve evolved into an aural (audio) learner as well. I started to enjoy podcast and audiobook a lot, maybe partly because I still can do other thing including my work while listening to it. I remember I chuckled on Yuval Noah Harari’s Sapien audiobook, the ‘Gossip’ part, while I was stirring my boiling pot.

Fast forward to few months later, I find myself in a similar situation. The ‘stress’ I’m currently facing is no longer a mountain of rocks I’ve to carry, but a mere long and boring wood log.

Also known as a creative block.

The feeling is familiar, almost like a pattern or a cycle, where every few years of long driving, I hit a dead end.

Can I turn back? Should I leave the car and started walking to find another way? Do I crave for more or this is it? 

Knowing how I can be overthinking sometimes (Gemini, *shrug*), I’ll let my body ‘hijack’ me one more time by doing something she’s best at combating stress: adding more (beneficial) ‘stress’.

At the time I’m writing this post, I have finished another online course. This time I even chose subject that is outside my typical choice: business. But it turns out I’m still craving for something familiar, a sense of security I can hold on to. That’s when I decided to take an offer to be involved in a project with ruangrupa, a Jakarta-based artist collective. It’s been years since my last project with them. I used to manage their video/media arts division (OK. Video) for several years. They are currently preparing for Documenta fifteen, a 100 days exhibition of contemporary art which takes place every five years in Kassel, Germany.

I am currently involved as an editor for one of their publications. It feels refreshing because I am back to my element. I get to read a lot and make sense of it before making a meticulous edit. It’s an ongoing project I have yet to finished.

Here I am again with my newly added ‘stress’. I have to work over-hours because this project can only start after my official working hour ended. So I have a new deadline to finish, less time to sleep, more expectations to meet, but also a joy from reading all this amazing writings from the writers/researchers and high caliber contributors (one of them is a female professor at the Faculty of Cultural Sciences whom I adore for so long!).

For now I’ll just let my ‘toxic trait’ into action. This is the only way I know to productively combating stress; to make use of a ‘long and boring wood log’. Who knows I might make a beautiful sculpture out of it, instead of just dragging it in an agonizingly long and straight line.

***

P.S. This is my personal way of combating stress and I am not advertising it for anyone else. Our body can give different reaction when exposed to stress. If you are struggling with stress, I suggest you to seek help. The symptoms may be physical or emotional and can include chain of negative reactions that can be harmful to yourself. Several sources I find useful for coping with stress: CDCNHSMentalhealth.org.uk, and Mind.

Tentang Lari

Dari dulu saya paling malas yang namanya olahraga. Bagi saya, panas-panasan menggerakkan badan demi mencari keringat adalah kegiatan percuma. Masih mending kalau pembahasannya lagi seru, permainan misalnya. Lha kalau yang monoton seperti lari? Apa serunya mengejar waktu tercepat? Kalau bukan karena pelajaran wajib, saya sih lebih pilih nongkrong di kantin sambil ngemil dan minum es teh manis. Sialnya, sudah ikutan capek, eh masih dapat nilai jeblok juga di rapor saat SD. 5,5. Nilai merah pertama dan terakhir di rapor sepanjang sekolah.

Kesialan kedua, dari SD sampai SMA, sekolah saya luar biasa rajin mengadakan kegiatan lari. Tidak cukup menjadi topik di mata pelajaran olahraga, masih ditambah lari wajib keliling sekolah setiap minggu. Kalau punya kenalan alumni Labschool, boleh ditanya soal pengalaman lari Jumat. Rutenya dari depan sekolah di Jalan Pemuda, belok kiri ke Jalan Raya By Pass, belok kiri lagi ke arah Pasar Sunan Giri, terus belok kiri lagi kembali ke Jalan Pemuda. Kelihatannya sih segitu aja rutenya. Tapi coba deh datang terlambat (lari start pukul 06.30), lari sendiri dan keduluan sweeper. Itu lho, anak OSIS yang tugasnya memastikan semua sudah lari. Jadi setiap anak yang lari di belakang sweeper, akan dihukum. Antara push-up atau lari keliling lapangan. Karena keseringan terlambat, jadi saya datang ke sekolah sudah pakai seragam rapi. Tentunya dengan indik-indik supaya tidak ketahuan dan sudah titip absen sama teman.

Keengganan berlari yang menahun ini terasa semakin dikipasi oleh seorang teman dan motto nyelenehnya, “Buat gue, lari itu cuma perlu dilakukan kalau lagi dikejar anjing!”

Masuk akal. Mudah-mudahan teman saya yang barusan mengirimkan pesan WhatsApp dan mengajak lari pagi besok bisa mengerti, atau setidaknya ikut cengengesan saat membaca balasan saya.

Bohlam

boh·lam n cak bola lampu listrik; lampu busur

Semalam, saya baru sampai rumah sekitar pukul satu dini hari. Sepulang kerja, saya mampir dulu ke ruangrupa untuk mengantarkan oleh-oleh cokelat kepada teman-teman di sana, sebagai hasil perburuan singkat di kios duty-free bandara Schiphol, Amsterdam, akibat tak punya waktu jalan-jalan di tengah padatnya agenda Impakt Festival di Utrecht. Lalu, sempat juga ke pembukaan pameran Gambar Selaw di Om Duleh, yang lokasinya masih di daerah Tebet.

Sesampai di rumah, ritual yang biasa saya lakukan adalah melucuti semua benda yang melekat di tubuh—mulai dari pakaian dan aksesori seperti jam tangan dan gelang, berganti baju dengan kostum kamar yang longgar dan nyaman, menggantung celana jeans di loteng dalam keadaan sisi dalam di luar, mengambil handuk, lalu istirahat sebentar sebelum mandi, atau  ‘mengeringkan keringat’ istilah yang sering dipakai orang-orang. Ya, saya terbiasa mandi malam (dengan air dingin—red) jam berapapun itu. Kecuali, tentunya, jika sedang tidak enak badan.

Jeda sebelum mandi itu biasa saya isi dengan berbagai kegiatan. Semalam, saya mengisinya dengan mengganti bohlam kamar mandi.

Posisi kamar mandi di rumah saya berhadapan dengan tangga. Saat hendak menuju loteng itulah saya mendapati bohlam kamar mandi kedap-kedip; salah satu pertanda bahwa ajalnya kian dekat dan mesti segera diganti. Usai menggantung celana dan mengambil handuk di loteng, saya menyelinap masuk ke kamar ayah saya untuk mengambil bohlam yang baru. Beliau terbiasa menyimpan persediaan bohlam yang cukup banyak di lemari kamarnya.

Berhubung saya agak pengecut dalam hal perlistrikan atau perkomporan, saya akan menggunakan alat bantu saat berurusan dengan keduanya. Untuk mengganti bohlam, biasanya saya menggunakan tongkat khusus agar tak perlu naik kursi dan memegang bohlam secara langsung. Tujuannya agar terhindar dari insiden tersetrum. Sayangnya tongkat yang dicari tak kunjung ketemu. Alhasil saya harus melakukannya dengan cara manual.

Sempat tergoda juga untuk minta bantuan adik yang lagi asyik mengulik gadget DJ (entah apa namanya) di ruang keluarga, tapi akhirnya toh saya kerjakan sendiri. Dengan bantuan kursi yang diambil dari ruang makan, serta kain lap yang saya gunakan agar tak kepanasan saat memegang bohlam, saya sukses mengganti bohlam kamar mandi sendiri.

Saat itulah saya teringat ledekan abang saya dulu.

“Cewek Indonesia kok nggak bisa ganti bohlam lampu sendiri?” 

Saya, yang saat itu masih berseragam putih-biru, menganggap ledekan itu berlebihan, atau ‘lebay’ istilah anak zaman sekarang. Masa untuk urusan ganti bohlam bawa-bawa negara segala?

Semalam, saya cuma bisa cengengesan saat mengenang kembali wajah abang saya saat melontarkan ledekan tersebut sebelum menggantikan bohlam di kamar saya yang saat itu mirip diskotik; lampunya kedap-kedip. Tentu saja semalam saya paham betul maksud ledekan tersebut. Ia mengharapkan adiknya untuk tumbuh mandiri, yang tidak sedikit-sedikit minta bantuan orang lain. Alhasil, adiknya ini merasa sedikit bangga setelah sukses mengganti bohlam kamar mandi semalam. Meskipun sebenarnya saya sendiri merasa urusan perbohlaman ini sepele.

***

Abang saya bukan tipe role model yang segala tingkah lakunya selalu bisa dijadikan panutan. Ia bukan pula tipe siswa yang secara akademis memuaskan. Ia bahkan tak pernah kuliah. Pendidikan pascasekolah yang pernah ia jalani adalah beberapa kursus singkat berbagai bidang, mulai dari sinematografi, komputer, desain grafis, sablon, hingga teknik mesin. Sisanya, ia pelajari secara otodidak sembari mengisi waktu luang dengan membaca karya sastra atau mendengarkan Iwan Fals dan Jimi Hendrix. Saya belajar banyak hal darinya, dan seringnya, dengan cara dan dalam waktu yang tak biasa.

Suatu hari ia mengajarkan saya cara menulis deskripsi dalam cerita pendek, dalam waktu kurang dari lima menit di ruang tamu. Saat itu saya sedang asyik membaca majalah, dan ia hendak ke luar rumah bersama teman-temannya. Sepertinya ia habis membaca salah satu cerita pendek buatan saya di buku tulis. Kira-kira begini ucapannya waktu itu:

“Kalau nulis cerpen, tambahin deskripsi biar suasananya lebih lengkap, dan ceritanya lebih bewarna. Jadi, daripada mengakhiri dialog cuma dengan ‘ujarnya’ atau ‘katanya’, bikin begini aja: ‘Ra, Bang Aan pergi dulu ya!’ ujarnya seraya mengambil bungkus rokok yang ada di atas meja.”

Reseknya, ia langsung ngeloyor pergi usai memberi contoh soal deskripsi tersebut.

Pernah juga suatu hari ia menasihati soal nasihat. Jika tak salah ingat, saat itu saya mengabaikan nasihatnya untuk tak pulang malam, karena toh ia sendiri juga kerap pulang malam. Melihat pemberontakan kecil-kecilan yang dilakukan adiknya, ia pun berujar “Kalau dinasihati, lihat isi nasihatnya, bukan siapa yang menasihati.” Tapi tentu, saya jiwa ABG saya yang bergolak saat itu tak mampu mencerna nasihatnya dengan cermat.

Tepat hari ini, 2 November, ia yang bernama lengkap Ryan Novian dan yang saya panggil ‘Bang Aan’ ini berulang tahun. Jika masih bersama kita, ia genap berusia 36 tahun hari ini. Namun kita tak kuasa melawan kehendak semesta. Delapan tahun lalu, tepatnya 9 Agustus 2004, ia ‘mengucapkan salam perpisahan’ kepada keluarga, teman, dan siapapun yang pernah mengenalnya. Dalam kesunyian dan berada jauh dari rumah, ia menghembuskan napas terakhirnya. Namun saya percaya, ia bersama semua kenangan yang menyertainya, akan tetap hidup selama yang saya inginkan. Seperti bohlam yang pijarnya dapat kita nyala-matikan sekehendak hati.

Selamat ulang tahun, Bang Aan.

.

And I continue
To burn the midnight lamp
Alone

Now the smiling portrait of you
Is still hangin’ on my frowning wall
It really doesn’t, really doesn’t bother me too much at all
It’s just the ever falling dust
That makes it so hard for me to see
That forgotten earring layin’ on the floor
Facing coldly towards the door

I continue
To burn the midnight lamp
Lord, alone

 Burning Of The Midnight Lamp, Jimi Hendrix

.

Gambar diambil dari sini

Bosan

Sering aku merasa, kita tinggal di sebuah rumah yang dibangun oleh kebohongan. Tipu sana tipu sini, entah apa yang membuat kita bertahan.

Saat kamu tidak mengangkat telepon atau membalas SMS, pikiranku berkecamuk. Campur aduk antara prasangka dan yang berusaha positif. Kamu mungkin sedang bersama perempuan lain di rumahmu, di depan televisi dengan pose favoritku. Selonjoran. Atau mungkin kalian sedang berada di kedai kopi, di smoking area dan saling mengepulkan asap perselingkuhan. Baru ketika lelah, kamu kembali pulang. Kembali ke pangkuanku,  untuk melengkapi hidupmu di zona malam.

Begitu juga aku. Saat tak bersamamu, mungkin aku sedang berhaha-hihi dengan lelaki lain. Namun aku lebih cerdik, tak pernah sekalipun ku lewatkan telepon atau alpa membalas sms darimu. Aku memposisikan diri sebagai pihak yang mudah dihubungi dan selalu ada untukmu. Kamu tidak perlu tahu, di mana dan dengan siapa aku saat menerima telepon atau membalas pesan singkatmu. Bisa jadi aku di kamar berukuran 5 x 5 meter, di bilangan pusat Jakarta, ditemani berbotol-botol bir dan lelaki yang tak kalah memabukkan. Ucapan manja saat mengakhiri telepon denganmu terdengar begitu natural. Kamu tidak (perlu) tahu bahwa itu berkat latihan intens selama ini.

Entah apa yang membuat kita tetap bersama selama bertahun-tahun. Aku tak cukup bagimu, dan kamu tak cukup bagiku. Lebih dari sekali aku berpikir, mungkin lebih baik jika kita tetap berhubungan, tanpa embel-embel status yang kian terasa palsu. Setidaknya dengan begitu, kita saling membuka topeng dan berkata dengan lantang, “Kau tidak mencukupkanku, meski aku tetap membutuhkanmu.” Aku akan menemuimu saat butuh penghibur tanpa cela, yang bisa memberi oksigen tambahan saat aku mulai menyusut. Dan kamu akan kuterima dengan tangan terbuka, saat seks tak cukup memuaskanmu, dan kau haus akan obrolan-obrolan bernas, atau sekadar rindu mencibir para makhluk syok teknologi di mal-mal terkemuka.

Selamat dini hari, Jakarta. Apakah ‘bosan’ itu berperikemanusiaan?

 
.
8 Agustus 2011
Pk. 22:20