Gentrifikasi Pasar Santa?

Beberapa hari ini, di timeline path gue banyak yang share komikazer. Ngehe ya, pas banget memang sama situasi saat ini.

Tapi nanti dulu, ternyata ada yang bisa dibahas lebih lanjut dari sekadar gaya-gayaan.

Pernah dengar istilah gentrifikasi (gentrification) nggak? Ini arti lengkapnya:

“The buying and renovation of houses and stores in deteriorated urban neighborhoods by upper- or middle-income families or individuals, thus improving property values but often displacing low-income families and small businesses.”

Ternyata sejak beberapa tahun belakangan, istilah ini rame lho di Eropa. Jerman khususnya. Malah sampai ada unjuk rasa menentang gentrifikasi (atau hipsterised?) di Berlin. Dan Leipzig, yang kini jadi pusat atraksi wisata yang menyasar kaum muda dan kreatif, disebut-disebut contoh kota yang berhasil dibikin keren.

Kembali ke Jakarta, Kemang bisa jadi contoh gentrifikasi paling kentara. Dan kembali ke Santa, terlepas dari gaya-gayaan, bukan gak mungkin pasar yang awalnya diperuntukkan bagi PKL itu juga merupakan bagian dari ‘rencana besar’ gentrifikasi pemkot? Atau justru masyarakatnya sendiri yang secara gak sadar membuatnya begitu.

Jadi kalo nanti lagi pada ngumpul dan nyindir/sinis soal Pasar Santa yang lagi hip, gue titip obrolan soal gentrifikasi ini. Soalnya, ya kita-kita ini juga yang jadi target utamanya; kaum muda dan kreatif.

Happy weekend!

Bacaan:
http://m.vice.com/en_uk/read/berlins-war-against-gentrification

www.newrepublic.com/article/119394/new-berlin-rise-and-fall-cool-cities

Tentang Lari

Dari dulu saya paling malas yang namanya olahraga. Bagi saya, panas-panasan menggerakkan badan demi mencari keringat adalah kegiatan percuma. Masih mending kalau pembahasannya lagi seru, permainan misalnya. Lha kalau yang monoton seperti lari? Apa serunya mengejar waktu tercepat? Kalau bukan karena pelajaran wajib, saya sih lebih pilih nongkrong di kantin sambil ngemil dan minum es teh manis. Sialnya, sudah ikutan capek, eh masih dapat nilai jeblok juga di rapor saat SD. 5,5. Nilai merah pertama dan terakhir di rapor sepanjang sekolah.

Kesialan kedua, dari SD sampai SMA, sekolah saya luar biasa rajin mengadakan kegiatan lari. Tidak cukup menjadi topik di mata pelajaran olahraga, masih ditambah lari wajib keliling sekolah setiap minggu. Kalau punya kenalan alumni Labschool, boleh ditanya soal pengalaman lari Jumat. Rutenya dari depan sekolah di Jalan Pemuda, belok kiri ke Jalan Raya By Pass, belok kiri lagi ke arah Pasar Sunan Giri, terus belok kiri lagi kembali ke Jalan Pemuda. Kelihatannya sih segitu aja rutenya. Tapi coba deh datang terlambat (lari start pukul 06.30), lari sendiri dan keduluan sweeper. Itu lho, anak OSIS yang tugasnya memastikan semua sudah lari. Jadi setiap anak yang lari di belakang sweeper, akan dihukum. Antara push-up atau lari keliling lapangan. Karena keseringan terlambat, jadi saya datang ke sekolah sudah pakai seragam rapi. Tentunya dengan indik-indik supaya tidak ketahuan dan sudah titip absen sama teman.

Keengganan berlari yang menahun ini terasa semakin dikipasi oleh seorang teman dan motto nyelenehnya, “Buat gue, lari itu cuma perlu dilakukan kalau lagi dikejar anjing!”

Masuk akal. Mudah-mudahan teman saya yang barusan mengirimkan pesan WhatsApp dan mengajak lari pagi besok bisa mengerti, atau setidaknya ikut cengengesan saat membaca balasan saya.

Bosan

Sering aku merasa, kita tinggal di sebuah rumah yang dibangun oleh kebohongan. Tipu sana tipu sini, entah apa yang membuat kita bertahan.

Saat kamu tidak mengangkat telepon atau membalas SMS, pikiranku berkecamuk. Campur aduk antara prasangka dan yang berusaha positif. Kamu mungkin sedang bersama perempuan lain di rumahmu, di depan televisi dengan pose favoritku. Selonjoran. Atau mungkin kalian sedang berada di kedai kopi, di smoking area dan saling mengepulkan asap perselingkuhan. Baru ketika lelah, kamu kembali pulang. Kembali ke pangkuanku,  untuk melengkapi hidupmu di zona malam.

Begitu juga aku. Saat tak bersamamu, mungkin aku sedang berhaha-hihi dengan lelaki lain. Namun aku lebih cerdik, tak pernah sekalipun ku lewatkan telepon atau alpa membalas sms darimu. Aku memposisikan diri sebagai pihak yang mudah dihubungi dan selalu ada untukmu. Kamu tidak perlu tahu, di mana dan dengan siapa aku saat menerima telepon atau membalas pesan singkatmu. Bisa jadi aku di kamar berukuran 5 x 5 meter, di bilangan pusat Jakarta, ditemani berbotol-botol bir dan lelaki yang tak kalah memabukkan. Ucapan manja saat mengakhiri telepon denganmu terdengar begitu natural. Kamu tidak (perlu) tahu bahwa itu berkat latihan intens selama ini.

Entah apa yang membuat kita tetap bersama selama bertahun-tahun. Aku tak cukup bagimu, dan kamu tak cukup bagiku. Lebih dari sekali aku berpikir, mungkin lebih baik jika kita tetap berhubungan, tanpa embel-embel status yang kian terasa palsu. Setidaknya dengan begitu, kita saling membuka topeng dan berkata dengan lantang, “Kau tidak mencukupkanku, meski aku tetap membutuhkanmu.” Aku akan menemuimu saat butuh penghibur tanpa cela, yang bisa memberi oksigen tambahan saat aku mulai menyusut. Dan kamu akan kuterima dengan tangan terbuka, saat seks tak cukup memuaskanmu, dan kau haus akan obrolan-obrolan bernas, atau sekadar rindu mencibir para makhluk syok teknologi di mal-mal terkemuka.

Selamat dini hari, Jakarta. Apakah ‘bosan’ itu berperikemanusiaan?

 
.
8 Agustus 2011
Pk. 22:20

 

Romantisme

Kemarin siang, saya menuliskan sesuatu melalui akun Twitter. Begini kalimatnya:

Tahun lalu, jam segini perdebatan batin dimulai; terus berharap atau mengikhlaskan. Dijawab 18 jam kemudian. #29Juli

Bagi yang tak mengenal saya dengan dekat, twit tadi terasa ambigu. Benar saja, tak lama dua orang teman saya merespon dengan dugaan bahwa kalimat tersebut berhubungan dengan percintaan. Salah seorang dari mereka langsung ‘menuduh’ tahun lalu adalah saat saya mendeklarasikan hubungan dengan pasangan saya–padahal tahun ini hubungan kami sudah jalan lima tahun–dan yang seorang lagi bertanya apakah twit tadi berhubungan dengan pekerjaan atau romantisisme.

Saya memutuskan untuk menanggapi yang ke dua. Begini balasan saya:

#29Juli romantis banget, nu. Lebih intim dari persetubuhan. Well, gue memang pernah setubuh sama beliau sih. :’)

Ya, sebenarnya saya memang hanya ingin mengenang ibu saya yang wafat tepat setahun lalu, dan sehari sebelumnya, saya mulai goyah, antara terus berharap dan berdoa demi kesembuhannya, atau mulai mengikhlaskan diri dan memasrahkan segalanya.

Akhirnya saya memutuskan untuk memilih opsi ke dua. Sekuat tenaga saya coba enyahkan sifat egois yang selama ini menggelayut. Saya ingin terus bersama ibu, hinga saya melupakan kemungkinan bahwa jangan-jangan sebenarnya ibu sudah lelah berjuang melawan penyakitnya, dan hanya ingin beristirahat dengan tenang.

Kamis siang, 29 Juli 2010, sambil menahan isak tangis, dan berusaha menegar-negarkan diri, saya berbisik di telinga ibu, “Ma, Sara ikhlas. Mama sudah berjuang sekuat tenaga selama ini. Kalau mama sudah capek, dan mau istirahat, Sara ikhlas. Maaf kalau selama ini Sara egois dan kepingin mama terus ada buat Sara dan keluarga. Mama bisa istirahat sekarang. Sara ikhlas ma…”

Ibu seakan ‘menunggu’ saya. Tak sampai lima belas menit kemudian, ia menghembuskan nafas terakhirnya…

***

Hai ma, apa kabar? Tak terasa ya sudah setahun. Kami merindukanmu. Segala memori tentang dirimu bisa tiba-tiba menjelma menjadi zat kasat mata yang menyesakkan dada. Sungguh. Tapi kau tak perlu kuatir. Kami baik-baik saja, karena kami tahu, kau pun begitu di atas sana.

Misi Gagal

– Tentang selingkuh dan remeh-temeh lainnya

Kata mereka, “setia” itu selingkuh tiada akhir. Kata saya, selingkuh itu setia yang berakhir. Sebentar, atau untuk waktu yang lebih lama.

Selingkuh itu ibarat sepotong blueberry cheese cake yang disantap saat sedang diet. Nikmat, namun ada perasaan bersalah saat, atau usai melahapnya.

Sampaikan salam kepada para penghuni kamar kos atau rumah kontrakan yang remang-remang, dengan sisa kehampaan yang berceceran. Entah mereka berang atau justru girang, karena nafsu terkalahkan oleh etika, yang gagal menuntaskan hasrat di dua pertiga malam.

“Tai kucing! Persetan dengan etika. Di kamar ini semua berlangsung secara impulsif, tidak sempat mampir ke otak dulu.”

Selamat dini hari, Jakarta. Sudah berapa banyak orang yang mendua, mentiga, dan menyekiankan kamu?

 
.
21 Juni 2011
Pk. 01:18