The Social Network: Bukan dinding pemujaan

Harus diakui, Facebook adalah salah satu hal yang mampu mengubah budaya sebagian besar manusia di seluruh dunia dalam berkomunikasi dan bersosialisasi. Fungsi dasar Facebook sebenarnya tak jauh berbeda dengan pendahulunya, Friendster, yaitu mendekatkan yang jauh, mempertemukan yang lama terpisah, ataupun menyambung yang telah terputus. Entah sudah berapa reuni yang terlaksana berkat Facebook, dan sudah berapa banyak pula para mantan pasangan yang kembali menjadi sepasang kekasih.

Terlepas dari hal-hal positif yang terjalin, Facebook juga sering disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. Banyak orang lupa kalau dunia maya adalah milik kita semua. Ibarat sebuah hunian yang seluruh dindingnya terbuat dari kaca. Semua orang bisa melihat dan mengetahui apa yang terjadi di dalam. Tidak sedikit karyawan yang dipecat karena menulis sesuatu yang dianggap tidak pantas tentang atasan atau kolega bisnis. Pun mereka yg diputuskan pasangan karena kepergok sedang bermesraan dengan orang lain.

Layaknya dua sisi koin, Facebook bisa membawa kebaikan dan keburukan. Frienemy, friend and enemy. Namun tetap, kontrol–seharusnya–ada di tangan pengguna: kita. Demi merayakan seluruh hal tersebut, saya berada dalam barisan (calon) penonton yang menanti dirilisnya film besutan David Fincher ini. Sudahi euforia The Curious Case of Benjamin Button, Fight Club, ataupun Se7en, dan mari menelanjangi privasi diri dan komuni dengan menonton The Social Network. Atas nama budaya populer, media sosial, hubungan interpersonal antarmanusia, atau sekadar voyeurisme belaka.