Membaca Pria dan Bacaannya

Apa yang ada di kepala Anda saat ditanya soal majalah gaya hidup pria? Profil wanita cantik bertubuh molek dan berpakaian minim? Berlembar-lembar artikel dan panduan fashion? Ulasan gadget dan kendaraan terbaru? Atau tips menaklukan wanita?

Jika ya, saya yakin Anda tak sendiri, sebab memang konten-konten seperti itulah yang disuguhkan majalah-majalah pria yang beredar di Indonesia saat ini. Dan saya, yang sempat setahun lebih menulis untuk majalah pria waralaba asal AS, mungkin, turut andil dalam penyebaran konten-konten yang membuat majalah tersebut lebih mirip katalog.

Adalah Bung!, majalah terbitan ruangrupa yang mencoba keluar dari citra yang terlanjur terbentuk tentang majalah pria Indonesia. Alih-alih menarik minat pembeli dengan sampul yang mengumbar lekuk tubuh wanita, majalah ini justru menampilkan wanita yang sedang duduk di bangku yang ditaruh di atas mobil bak terbuka yang penuh barang-barang pindahan. Tak ada halaman fashion yang dengan model-model rupawan berperut kotak-kotak. Yang ada hanya deretan foto kaus kaki dan boxer―yang tentunya tidak sedang dipakai oleh model―dengan bonus pembacaan karakter si pemakai atas pilihannya tersebut. Dan taruh saja di laci, dalam-dalam, harapan Anda untuk mendapatkan informasi anyar soal gadget atau kendaraan, sebab yang anda dapatkan justru artikel soal fenomena pacaran di jembatan layang.

Jadi, ketika majalah ini mengadakan diskusi santai, pembacaan cerpen, dan pertunjukan musik yang diberi nama Ayo Bung!, saya memang tak mengharapkan akan dijamu nuansa glamor seperti yang kerap disuguhkan majalah-majalah gaya hidup pria lainnya; hotel berbintang atau kafe ternama, makanan bufet, atau doorprize berhadiah utama yang bikin ngiler.

E-Flyer acara "Ayo, Bung!"

Ayo Bung! diadakan di ruangrupa pada 8 Juni lalu. Konsepnya sederhana, diskusi dan pembacaan cerpen berlangsung sambil duduk lesehan, kemudian ditutup dengan pertunjukan musik di teras ruangrupa. Konsep acaranya memang sederhana, namun tidak begitu dengan tujuannya. Betapa tidak, Ayo Bung! dimaksudkan sebagai perayaan tiga edisi majalah yang hanya direncanakan untuk terbit sebanyak empat edisi saja! Ya, aneh―saya tidak memilih kata ‘congkak’ sebab majalah musik Rolling Stone Indonesia sudah  lebih dulu menyandang status itu dengan mengadakan pesta setiap penerbitan edisinya―memang.

Diskusi dibuka dengan penuturan Ardi Yunanto, Redaktur majalah Bung!, tentang lima hal yang dalam kepercayaan adat Jawa, harus dimiliki oleh pria demi menjadi seorang ksatria yang paripurna, yakni wisma (rumah), wanita (pasangan), turangga (kendaraan), curiga (senjata), dan kukila (hobi). Kelima hal tersebut kemudian diterjemahkan ulang oleh tim redaksi, lalu diaplikasikan ke dalam rubrikasi majalah sesuai konteks kekinian.

Kami membaginya menjadi lima rubrik utama; wisma menjadi Pilar, wanita menjadi Kencan, kendaraan menjadi Roda, senjata menjadi Siasat, dan hobi menjadi Senggang.” ujarnya singkat. Ia lanjut menjelaskan bahwa cukup banyak fenomena yang terjadi di masyarakat yang muncul dari kelima unsur tersebut, dan ia beserta tim redaksi berusaha mengambil ide dari masalah-masalah yang ada yang ada.

Diksusi apapun tentunya tak akan sahih jika tak mengulas sedikit―jika enggan banyak―sejarah yang menjadi topik diskusi tersebut. Pembicara lain, Budi Warsito, pemilik dan pengelola perpustakaan Kineruku di Bandung,  yang juga memiliki minat khusus pada majalah, mencontohkan salah satu majalah (remaja) pria yang terbit pada 1977, yakni majalah Hai. Budi baru aktif membaca majalah tersebut pada era ’80an. “Majalah remaja pria waktu itu memberikan semuanya, mulai dari olahraga, musik, bahkan sampai soal-soal Ebtanas SMP dan SMA!” kenangnya disusul gelak tawa tamu yang hadir. Ia mengaku belajar banyak dari majalah tersebut. Begitu cintanya, ia bahkan mengumpamakan majalah tersebut sebagai “abang yang asyik”. Untuk yang satu ini, saya setuju. Saya, yang bukan pria, dan juga punya abang betulan, juga sempat rutin membeli Hai karena ketagihan artikel-artikel menarik yang mereka suguhkan. Terutama soal musik, yang menurut saya, pembahasannya lebih unggul dibandingkan dengan yang ada di majalah-majalah (remaja) perempuan.

Majalah Bung! #1 Majalah Bung! #2

Agar pembahasan lebih apple-to-apple, Budi mengambil contoh majalah pria dewasa yang hingga kini masih menjadi kiblat majalah pria dewasa lokal di Indonesia, yakni Matra. Menurutnya, secara konten, Matra  sudah berhasil menghadirkan konten-konten seputar hidup pria yang dikemas dengan menarik, bergaya, dan yang paling penting, baik. Untuk itu ia menyematkan status “om yang seru” pada Matra.

Soal yang satu ini, Hikmat Budiman, penulis, redaktur, pendiri dan direktur Yayasan Interseksi, yang juga hadir sebagai pembicara pun mengamini. Ia yakin, satu poin penting yang dimiliki oleh tim redaksi Matra hingga akhirnya sukses menyuguhkan konten-konten bermutu dan seru adalah dedikasi menulis, authorship; itu yang semakin jarang dimiliki oleh para penulis saat ini. Ia sempat ‘curhat’ bahwa ia dan rekan-rekan sejawatnya di Interseksi juga sedang bergulat dan mendisiplinkan diri untuk mejaga mutu naskah-naskah panjang di yayasan tempatnya aktif saat ini. Gempuran media online yang terkesan tak mengindahkan kualitas karena hanya mementingkan kecepatan informasi, ditambah bujuk rayu kenikmatan semu berkicau di Twitter, meninggalkan pekerjaan rumah yang berat bagi mereka dan siapa saja yang hidup dari menulis. Dengan setengah berguyon, ia menyebut perjuangan ini sebagai ‘perlawanan terhadap tirani 140 karakter’. Saya beserta para tamu yang hadir kompak tertawa―meski tentu saja dalam hati meringis karena merasa dicubit, keras sekali.

Masih tentang authorship, Hikmat juga menyinggung peran editor, yang menurutnya, harus tega―bahkan kalau perlu otoriter―dalam memahat artikel-artikel yang tak selamanya selalu bermutu dari awal hingga akhir. “Boleh otoriter untuk konteks-konteks kecil, asalkan kompeten.” tukasnya singkat.

Bicara soal pria dan bacaannya, sulit untuk melepaskan diri dari topik wanita dan seksualitas. Bagaimana sosok wanita ditampilkan dalam majalah pria, adalah topik yang selalu menarik untuk dibahas. Intan Paramadita, novelis horor dan penulis sinema, gender dan seksualitas, yang juga hadir di antara pengunjung, turut menyampaikan pendapatnya.

“Rubrik profil Bung! edisi pertama menampilkan Lisabona Rahman. Kalau ini majalah Popular, mungkin yang jadi profil adalah Sophia Latjuba. Tapi kalian menampilkan Lisa yang saat itu akan ke Belanda untuk mengambil Master di bidang film archive. Lisa terlihat keren banget di situ!” akunya dengan antusias.

Kenyataan bahwa yang terbuka dari wanita-wanita dalam rubrik profil adalah pikirannya, dan bukan tubuhnya, menjadi keunggulan lain yang dimiliki majalah ini. Dengan sedikit menyimpulkan, Intan  mengatakan bahwa pembaca Bung! adalah pria-pria yang mengidolakan sosok cerdas, yang menghargai wanita  lebih dari sekadar kemolekan tubuhnya.

Meski begitu, menurut Intan yang pernah menyumbangkan tulisan di edisi pertama tentang perempuan petualang ini, merasa Bung! kecolongan dengan tetap menghadirkan artikel-artikel yang menurutnya justru melanggengkan nilai-nilai patriarkal. Ketika diminta menyebutkan contoh artikel yang dimaksud, wanita yang menempuh pendidikan Doktoral di New York University ini enggan menjawab.

Majalah Bung! #3 Majalah Bung! #4

Direktur ruangrupa, Ade Darmawan, angkat suara merespon pendapat Intan, “Kita hidup di Indonesia di tengah struktur masyarakat yang patriarkal. Sulit untuk meruntuhkannya. Jadi wajar saja kalau masih ada ‘bocor’ di sana-sini.” Ia lantas menceritakan suasana rapat redaksi saat membahas sampul depan majalah Bung!, bahwa betapa sulitnya menampilkan sosok wanita di luar citra usang “kecantikan” yang dikonstruksi oleh media; putih, jenjang, rambut panjang dan lurus, namun di saat yang bersamaan tetap harus terasa ‘badung’ dan ‘nakal’.

Saat sesi tanya jawab, muncul pertanyaan mengapa persoalan homoseksualitas tidak mendapat porsi di majalah ini. Ardi menjawab bahwa hal ini bukannya tidak pernah dipikirkan, bahkan, sudah menjadi perdebatan di awal penerbitan majalah ini. “Kami tidak menutup mata, dan mengakui bahwa homoseksualitas merupakan bagian dari masyarakat. Hanya saja, memang tidak ada porsi khusus bagi topik homoseksualitas.”

“Di edisi pertama ada artikel soal keperjakaan. Penulisnya, Mikael Johani, tak hanya membahas soal keperjakaan pria heteroseksual, tapi juga homoseksual.” imbuhnya lagi.

Bebagai usaha telah dilakukan oleh majalah ini untuk tidak sekadar menjadi majalah pria yang berbeda. Mulai dari pemilihan topik,  pencarian  penulis yang ternyata tidak mudah, maupun kehadiran fotografi yang turut menegaskan posisi majalah yang menganggap bahwa menjadi pria lebih dari sekadar gaya hidup, namun sebuah jalan hidup. Saya pun penasaran, sebenarnya sosok pria Indonesia seperti apa yang disasar majalah ini? Jika majalah-majalah gaya hidup pria yang ada menargetkan pria dengan tingkat pendidikan dan pekerjaan yang umumnya menengah ke atas―sehingga rubrik profil kerap menampilkan sosok eksekutif muda―saya tak yakin majalah ini berada di posisi yang sama dengan mereka. Apalagi majalah ini pernah menampilkan sosok tukang ojek di rubrik foto Pria Indonesia Hari Ini.

“Saya tidak terlalu percaya pembagian kelas sosial berdasarkan tingkat ekonomi. Yang pasti target pembaca Bung! adalah pria dewasa, berusia sekitar awal 20-an sampai 45 tahun. Mereka yang masih rindu dengan bacaan-bacaan mendalam dan jujur.” jelas Ardi menerangkan. Budi kemudian menimpali dengan mengatakan bahwa Matra yang dulu sudah jalan empat tahun saja, pernah mendapat pertanyaan melalui kolom surat surat pembaca tentang sasaran target mereka. Jadi menurutnya, persoalan mendefinisikan pria di Indonesia, adalah persoalan yang tidak pernah selesai.

Setelah hampir 90 menit bergulir, diskusi santai tentah majalah pria di Indonesia usai juga. Pengisi kolom cerpen di edisi pertama Bung!, Yusi Avianto Pareanom, didaulat untuk membacakan salah satu karyanya yang berjudul Cara-cara Mati yang Kurang Aduhai. Cerpen ini dimuat dalam buku kumpulan cerpen terbarunya yang berjudul Rumah Kopi Singa Tertawa.

Selama sekitar 15 menit, hadirin dibuai cerpen yang ia bacakan. Sesekali tawa pengunjung membahana di RURU Gallery yang menjadi tempat diskusi dan pembacaan cerpen malam ini. Yang lebih lucu adalah, cerpen ini sebenarnya menyedihkan, bahkan mengerikan, karena berkisah soal eksekusi mati. Namun berkat pilihan diksi yang memikat, Yusi sukses mengundang tawa setiap orang yang hadir di ruangan di ruangan berukuran 6 x 4 meter tersebut.

Efek Rumah Kaca hadir di penghujung acara Ayo Bung! dengan membawakan 10 lagu yang beberapa diantaranya adalah crowd pleaser seperti Cinta Melulu, Kenakalan Remaja di Era Informatika, Desember, Di Udara, dan Balerina. Tak urung sekitar 30 pengunjung yang memadati teras ruangrupa kompak menyanyikan bait-bait lirik setiap lagu yang dilantunkan Cholil, sang vokalis, meski malam itu hujan sempat mampir di Tebet.

Berakhirnya Ayo Bung! malam itu juga terasa seperti akhir dari ‘hubungan’ antara Bung! dan pembacanya. Namun saya sadar bahwa perpisahan ini memang sudah diniatkan di awal, sejak tercetusnya ide untuk menerbitkan majalah pria sejumlah empat edisi saja.

Di waktu yang singkat ini tentu masih banyak hal yang belum tuntas dibahas. Namun, di waktu yang singkat ini pula, majalah yang menyapa pembacanya dengan sebutan ‘Bung’ dan ‘Nona’ ini  telah sukses tampil beda dengan menyuguhkan isu-isu menarik seputar hidup pria, namun tidak diberi porsi oleh majalah pria lainnya. Dan untuk itu, saya cukup bangga memproklamirkan diri sebagai salah satu pembaca majalah ini.

Sampai jumpa lagi, Bung!.

Bingkai Plesir Kota ATLAS

Seorang pengunjung sedang melihat stereo foto dengan View-Master. Foto-foto menampilkan 4 museum di Semarang: Museum Mandala Bhakti, Musem Ronggowarsito, Museum Rekor Indonesia, dan Museum Jamu Nyonya Meneer. (foto: Rizki Lazuardi)

 

KAPAN terakhir kali Anda berkunjung ke Semarang, di luar urusan pekerjaan dan kunjungan tahunan pada hari raya? Sarana rekreasi yang terdapat Semarang memang tidak sevariatif di Jakarta. Keindahan alamnya pun tak bisa disandingkan dengan deretan bukit di Papua. Jangan pula membandingkan Pantai Maros dengan Pantai Nusa Dua yang ada di Bali. Tak heran jika akhirnya Semarang jarang masuk ke dalam daftar destinasi liburan favorit.

Tapi, industri pariwisata Semarang yang kian lesu ternyata tak menyurutkan minat penduduk lokal untuk bersenang-senang, meski kelihatannya pemerintah daerah tak bergairah untuk menggelorakan kembali tempat-tempat rekreasi yang ada. Minimnya fasilitas memacu mereka, terutama muda-mudi, untuk semakin kreatif “menciptakan” tempat baru sebagai tempat berkumpul (melting pot). Alhasil, menjamur lah tempat rekreasi “jadi-jadian” yang kini pamornya jauh mengalahkan tempat rekreasi yang sesungguhnya.

Salah satu contoh yang paling terkenal adalah Lawang Sewu. Bangunan yang namanya berarti “seribu pintu”—meski tidak benar-benar memiliki seribu pintu—ini sudah lama dibiarkan kosong sejak pemakaian terakhir sebagai kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI) atau kini PT Kereta Api Indonesia. Sekitar tahun 2003, bangunan ini dijadikan lokasi syuting Dunia Lain, sebuah program televisi bertema horor. Praktis sejak saat itu kehadirannya tak bisa dilepaskan dari nuansa mistis. Anehnya, hal ini justru menjadi daya tarik kuat bagi turis, baik yang berasal dari dalam maupun luar Semarang. Bangunan yang lama tak dihiraukan, kini secara pelahan tapi pasti berubah menjadi salah satu destinasi utama saat berkunjung ke Semarang. Orang-orang seperti tak masalah mengeluarkan sekian puluh ribu sebagai biaya “tiket masuk” dan biaya “pemandu”. Persoalan legalitas kedua hal tersebut, saya tak berani jamin.

Selain Lawang Sewu, ada pula Tugu Muda yang menjadi tongkrongan favorit muda-mudi Semarang. Bagi Anda yang belum tahu, tugu ini layaknya Patung Selamat Datang di Bundaran HI. Sebuah landmark yang berada di pusat kota. Bedanya, tugu tidak dikelilingi kolam air mancur, melainkan taman. Setiap malam, terutama hari Sabtu, lokasi ini dipadati pengunjung yang sekadar mengobrol dan bercanda ria. Kegiatan senang-senang tersebut tak afdol jika tidak ditambah foto-foto. Tak ada kamera, ponsel berkamera pun jadi.

 

Merekam Keriaan

Budaya merekam kegiatan wisata di Semarang tersebut yang dijadikan tema besar dalam pameran kolaborasi dua seniman lokal, Irfan Fatchu Rahman dan Rizki Lazuardi. Pameran bertajuk “ATLAS Holiday” ini diselenggarakan sejak 19 – 26 Maret di Lembaga Budaya Belanda Widya Mitra, Semarang. “ATLAS” yang dimaksud bukanlah buku peta, namun slogan kota Semarang yang merupakan singkatan dari “Aman, Tertib, Lancar, Asri, dan Sehat”. Keduanya mencoba melihat Semarang dari dua sudut pandang berbeda. Irfan lahir dan tinggal di Semarang hingga sekarang. Sedangkan Rizki sejak tiga tahun silam bekerja dan tinggal di Jakarta, sehingga ia sekaligus membawa sudut pandang turis dalam melihat kembali Semarang.

Seri karya pertama mereka yang berjudul Instant Memories menghadirkan 23 foto rekonstruksi di berbagai tempat rekreasi, seperti Kelenteng Sam Poo Kong, Taman Hiburan Wonderia, Kebun Binatang Mangkang, dan lain-lain. Selain itu, ada pula tempat rekreasi “baru” seperti Lawang Sewu, Taman KB, Tugu Muda, dan lain-lain. Sebagian besar tempat baru tersebut sebenarnya  termasuk kedalam kategori ruang publik dan bukan tempat rekreasi. Namun jumlah pengunjung di tempat-tempat baru tersebut cenderung lebih besar dibandingkan yang memadati tempat-tempat rekreasi yang sesungguhnya. Berhubung ini adalah foto rekonstruksi, maka keduapuluh tiga “turis” yang ada dalam foto tersebut bukanlah turis sungguhan, melainkan teman-teman mereka sendiri yang diminta berpose a la turis.

Foto diambil menggunakan kamera instan, lalu dipamerkan dengan menggunakan sampul. Tujuannya untuk menciptakan ilusi bahwa seluruh foto tersebut difoto oleh seorang fotografer keliling. Sampul berfungsi untuk mencegah sidik jari berbekas di permukaan foto.

Jika di seri karya pertama kedua seniman berpura-pura sebagai fotografer keliling, maka di seri karya Order Speculation, sosok tersebut benar-benar dihadirkan lewat foto dalam medium neon box dan rekaman suara. Mereka adalah Sutono dan Bowo. Keduanya beroperasi di Bonbin (kebun binatang) Mangkang. Sutono mewakili kelompok fotografer order yang biasanya ditunjuk secara resmi oleh suatu tempat rekreasi. Sedangkan Bowo adalah seorang fotografer spekulasi yang berkeliaran di tempat-tempat rekreasi dan memotret secara acak pengunjung yang datang. Baru nanti hasil jepretannya digelar di dekat pintu keluar, dengan harapan dibeli oleh pengunjung yang wajahnya terpotret oleh Bowo.

Di masing-masing foto, keduanya terlihat mengalungkan kamera instan. Pada kenyataannya, baik Sutono maupun Bowo menggunakan kamera digital. Penambahan objek yang telah lewat masanya ini bertujuan untuk menunjukkan kepada kita bahwa profesi mereka turut berubah akibat perkembangan teknologi. Meski kini ponsel berkamera menjamur dimana-mana, eksistensi mereka tetap dianggap penting di setiap tempat rekreasi. Fotografer keliling menjadi andalan bagi pengunjung yang ingin mengabadikan momen-momen rekreasional, namun terbentur fasilitas.

Pada seri karya Amusement and Spectacle, kedua seniman menggunakan medium film dalam menampilkan video tiga kanal (triptych video) tentang kegiatan wisata di dua tempat rekreasi, yakni Taman Hiburan Wonderia dan Lawang Sewu. Dua dari tiga kanal video tersebut merupakan rekaman rekonstruksi yang dilakukan oleh mereka, sedangkan satunya lagi merupakan found footage berupa rekaman liburan keluarga di tahun ’70-an yang tak sengaja ditemukan Rizki di tempat penjualan barang loak di Jakarta. Ketiga kanal video tersebut disandingkan, lalu disajikan sebagai sebuah rekaman audio visual kegiatan wisata.

Waktu 40 tahun lebih yang terpaut antara rekaman temuan dan rekaman rekonstruksi menjadi bias karena karakter medium film 8 mm yang digunakan memiliki resolusi rendah. Sehingga detail visual semisal perubahan tempat rekreasi zaman dahulu dan sekarang juga tidak begitu kentara.

Ketiga kanal video ini memperlihatkan bahwa usaha merekam kegiatan wisata sudah sejak lama dilakukan, tak hanya dalam bentuk visual, namun juga audio visual. Terbukti adanya temuan otentik—meski tak sengaja—rekaman dari tahun ’70-an. Hal ini menegaskan bahwa usaha perekaman menjadi sama pentingnya dengan kegiatan wisata itu sendiri. Yang perlu kita ingat adalah, pada masa itu peralatan rekam tidak semudah dan semurah sekarang, sehingga hanya momen-momen tertentu saja yang dianggap berharga dan layak direkam. Hal ini sejalan dengan pernyataan Susan Sontag dalam bukunya On Photography, yang mengatakan bahwa rekaman visual (foto) merupakan miniatur realita atau pengalaman yang terbingkaikan. Kita berhasrat untuk mengabadikan setiap momen rekreasional dengan harapan dapat “merasakan” kembali keriaan tersebut  di masa depan.

Jika di tiga seri karya sebelumnya kedua seniman menggunakan medium standar dalam menampilkan rekaman visual dan audio, maka di seri karya terakhir yang berjudul Amusing Museums, mereka menggunakan perangkat hiburan kuno View-Master. Benda yang dikategorikan sebagai mainan ini digunakan untuk melihat tujuh foto yang terdapat pada sebuah piringan kertas. Ketujuh foto tersebut nantinya terlihat seperti sebuah gambar tiga dimensi atau disebut juga sebagai stereo foto. Di negara asalnya, Amerika Serikat, View-Master awalnya digunakan untuk keperluan promosi objek wisata. Piringan kertas diisi foto-foto pemandangan alam dan berbagai atraksi yang menarik perhatian para turis. Di Indonesia sendiri, mainan ini sempat populer di akhir ’80-an.

Ada empat buah View-Master yang tersedia, dengan total 28 buah stereo foto empat musem di Semarang, yakni Museum Mandala Bhakti, Musem Ronggowarsito, Museum Rekor Indonesia, dan Museum Jamu Nyonya Meneer.

Masyarakat Indonesia memang kurang terbiasa dengan “promosi wisata” menggunakan cara ini, namun Irfan dan Rizki berniat mengembalikan fungsi View-Master yang sesunguhnya. Meskipun demikian, keduanya tak berniat menjadikan pameran ini sebagai pameran promosi wisata Semarang. Itu sebabnya mereka merasa tidak perlu melengkapi karya dengan keterangan lokasi.

Pameran ini memang tak sempurna. Presentasi karya yang kurang maksimal mengurangi kenyamanan dalam menikmati karya yang ada, terutama pada seri karya Amusement and Spectacle. Dalam menayangkan video, mereka tidak menggunakan layar standar, tetapi dinding galeri yang dicat putih seadanya. Video pun tidak dibuat otomatis memutar ulang begitu durasinya habis, sehingga hampir setiap tiga menit, kedua seniman sibuk meminta pihak galeri, atau bahkan melakukan sendiri, memutar ulang video dari awal. Namun, terlepas dari segala kekurangan yang ada, pameran ini pantas diapreasiasi. Jika dibandingkan dengan Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta; seniman asal Semarang kurang terdengar gaungnya. Hadirnya pameran ini menyemarakkan dunia seni rupa Semarang yang seolah ikut lesu seperti industri pariwisata kota ini.

Tema rekreasi yang diusung kembali mengingatkan kita, bahwa sesungguhnya manusia senang mencari hiburan, yang salah satu caranya adalah dengan berwisata. Keriaan berwisata tersebut lantas kita abadikan menjadi sebuah rekaman visual, agar sewaktu-waktu dapat dinikmati kembali. Pada akhirnya, mungkin itu pula tujuan Tuhan menciptakan akhir pekan, agar manusia memiliki waktu luang dan dapat menunaikan kodrat sebagai makhluk bermain (Homo ludens). ***

 

Foto-foto lain:

 

 

*Catatan penulis
Ada sedikit perubahan pada tulisan ini. Sementara versi aslinya bisa dibaca di situs Indonesia Art News.

 

Have Fun Go Veg!

Panduan Wisata Kuliner Menu Non-hewani.


Menjadi vegetarian adalah salah satu cara untuk menerapkan pola hidup sehat, meski sebagian orang memiliki alasan lain untuk tidak mengonsumsi daging, misalnya karena faktor kesehatan, ingin menerapkan hidup kembali ke alam, atau bahkan ingin menurunkan berat badan. Semuanya bisa dibenarkan, bahkan yang paling ekstrem sekalipun, tidak ingin menyakiti atau menghilangkan nyawa hewan. Tak salah memang, karena itu soal pilihan hidup.

Ada baiknya Anda mengenal secara singkat jenis-jenis vegetarian berdasarkan makanan yang “boleh” dan “tidak boleh” dimakan. Berikut pembagian secara jelasnya:

  • Semi Vegetarian
    Selain jenis makanan nabati (non hewani), semi-vegetarian juga masih mengonsumsi daging hewan, meskipun tergolong jarang.
  • LactoOvo Vegetarian
    Vegetarian jenis ini tidak mengonsumsi produk hewani, kecuali yang mengandung susu dan telur.
  • Lacto Vegetarian
    Produk hewani yang dikonsumsi hanya susu dan olahannya, misalnya keju dan es krim. Selebihnya tidak, termasuk telur.
  • Ovo Vegetarian
    Kebalikan dari lacto vegetarian, produk hewani yang dikonsumsi hanya  telur dan olahannya saja.
  • Vegan
    Merupakan tingkat vegetarian yang paling ketat. Mereka hanya mengonsumsi makanan non hewani. Bahkan telur, susu, dan madu sekalipun tidak. Biasanya mereka juga menolak untuk mengenakan produk pakaian yang menggunakan kulit hewan asli.

Setelah mengetahui jenis-jenis vegetarian beserta makanannya, berikut adalah menu-menu non-daging yang bisa Anda santap. Vegetarian or not, everyone is welcome.


PORTICO

Vegetarian Spaghetti

Ketika Anda melintas di Jalan Asia Afrika, Jakarta Selatan, restoran yang terletak di pelataran Senayan City ini dengan cepat menarik perhatian. Mengusung konsep indoor dan outdoor, Portico memang menjadi salah satu spot favorit untuk hang out. Menu restoran ini pun cukup membuat perut Anda yang mungkin sebenarnya tak lapar, mendadak lapar.

Menu vegetarian yang tersedia di sini cukup banyak, misalnya Wild Mushroom Cream Soup with Truffle Oil. Sup ini terasa gurih dan tidak terlalu creamy. Jadi rasa aslinya masih dapat Anda nikmati. Ada pula Spaghetti with Chili Padi, Mushroom, and Garlic Infused Olive Oil. Spaghetti yang mendapat pengaruh kuliner Asia ini terasa nikmat disantap sebagai menu makan siang. Namun jika Anda kurang suka pedas, hati-hati dengan potongan cabai kering yang bersembunyi di balik helaian spaghetti Anda.

 

 

 

KOMALA’S

Grill Focacia

Restoran yang terletak di kompleks pusat perbelanjaan Sarinah, Jakarta Pusat, ini menghidangkan masakan-masakan khas India. Komala’s menggunakan susu sebagai salah satu bahan dasar. Jadi jika Anda seorang lacto-vegetarian, menu restoran ini “aman” untuk dikonsumsi. Untuk permulaan, Anda bisa mencoba Grill Focaccia. Roti kering yang juga populer di Italia ini diberi filling keju, rempah-rempah, dan minyak zaitun. Sebagai tambahan, menu ini juga disertai keripik kentang. Paduan rasanya menarik, gurihnya roti panggang berpadu dengan keripik yang renyah. Ingin mencoba menu yang lebih “India”? Anda bisa mencoba Masala Dosai, sejenis crepes yang berisi kentang tumbuk.

 

 

CASA D’ORO

Salad organik

Salah satu restoran andalan Hotel Indonesia Kempinski Jakarta, Casa D’Oro, melakukan inovasi dengan bermitra dengan White Lotus, perusahaan penyedia makanan yang memperkenalkan seri menu sehat. Chef Italia yang telah memenangkan beberapa penghargaan, Francesco Greco, dipercaya untuk menangani urusan dapur. Salah satu menu yang disajikan adalah Garden Greens Crispy Organic Vegetables And White Balsamic Vinegar Dressing. Salad yang seluruhnya menggunakan sayuran organik ini terasa lebih segar karena menggunakan vinegar dressing, bukan creamy dressing seperti mayonnaise. Anda pun tak perlu khawatir karena salad ini hanya mengandung 120 kalori. Jantung sehat, lingkar pinggang pun aman.

 

 

 

 

LOVING HUT

Fancy Nut Satay

Tak susah mencari restoran vegetarian franchise asal Amerika Serikat ini, karena kini Loving Hut memiliki sebelas cabang yang tersebar di Jawa, Bali, Sumatera, dan Sulawesi. Khusus Jakarta, resto ini terdapat di Plaza Semanggi lantai 3 dan di Jalan Kemang Raya no 130. Menu-menu yang disajikan di sini mencakup hidangan khas nusantara, Asia, dan juga Eropa. Jangan heran dengan dengan nama yang tertulis di buku menu, karena sesungguhnya “lele”, “sate”, atau “steak” yang dihidangkan Loving Hut seluruhnya “aman” dikonsumsi oleh para vegetarian. Sebut saja Fancy Nut Satay. Sate ini menggunakan potongan “daging” yang diracik dari bahan-bahan non hewani. Layaknya sate, Fancy Nut Satay juga disajikan dengan bumbu kacang. Penasaran dengan rasa sate “palsu” yang terbuat dari jamur dan kedelai? Kosongkan jadwal akhir pekan Anda untuk mendatangi restoran ini.

 

 

TEHE VEGETARIAN

Nasi Uduk Ayam Kremes

Restoran ini memang mengkhususkan diri pada menu vegetarian. Suasananya pun nyaman dengan konsep riung tenda yang teduh. Jika ingin mencoba, sambangi saja PRJ Kemayoran Gambir Expo Blok J. Menu yang disajikan memang bukan ditujukan untuk para vegan, alias masih menggunakan telur sebagai salah satu bahan dasar. Jangan membayangkan sepiring menu dengan tampilan yang membosankan.

Di Tehe, Anda yang tidak vegetarian pun akan lahap karena “tertipu” dengan tampilan dan rasanya. Misalnya Nasi Uduk Ayam Kremes. Jangan kaget dulu, meski nama dan tampilannya “ayam”, sesungguhnya seluruh menu yang disajikan di Tehe bebas daging hewan, alias nabati. Sang pemilik restoran, Saharjo dan istri punya cara sendiri untuk membuat “ayam” dan teman-teman daging lainnya, yaitu dengan menggunakan kedelai dan jamur. Ia pun membentuk bahan-bahan tersebut sehingga menyerupai bentuk aslinya. Banyak orang yang tidak menyangka bahwa makanan yang mereka makan sebenarnya bukan daging sama sekali.

 

 

 

Foto: Rici Linde, Dok. Esquire.
Publikasi: Esquire Indonesia edisi Juni 2010.

Bir Pletok

Kehangatan Simbol Perlawanan Bumiputera


Ngupi-ngupi sore

Mereka bilang, Betawi punye gaye. Selain kesenian Gambang Kromong dan Ondel-ondel yang ikonik, Betawi juga punya banyak warisan makanan dan minuman tradisional. Saya tidak sedang membicarakan kerak telor yang kini dapat dengan mudah kita temui, melainkan bir halal khas Betawi: Bir Pletok.

Namanya penuh kontroversi, mengaku bir tapi diberi label halal. Sebenarnya apa keistimewaan minuman“jadi-jadian” ini? “Bir pletok dulu dijadikan simbol perlawanan Betawi bumiputera. Mereka tidak senang dengan para kompeni yang kerjanya mabuk-mabukan.Makanya mereka membuat bir pletok tanpa alkohol,” ungkap Bambang Pangayoman dari restoran Huize Trivelli menjelaskan.

Nama “bir pletok” sendiri tercipta bukan tanpa alasan. Minuman ini biasa ditaruh dalam sebuah bumbung (ruas bambu) tertutup dengan tambahan beberapa buah es batu. Bak bartender, orang-orangBetawi kemudian mengocok-ngocok minuman ini di depan para kompeni tersebut. Pada saat mengocok itulah terdengar bunyi pletak-pletok. Setelah dikocok, minuman ini akan berbuih menyerupai bir. Versi lain menyebutkan kata “pletok” didapat dari bunyi air yang mendidih saat proses perebusan berlangsung.

Berbicara soal bahan, tidak ada satu acuan baku karena biasanya setiap produsen melakukan sedikit improvisasi resep. Namun menurut Rosiah, salah seorang pembuat bir pletok asli Betawi di daerah Kebagusan, Jakarta Selatan, empat bahan yang harus ada adalah lada hitam, cabai Jawa, kayu manis, dan serai. Sisanya dilengkapi oleh jahe atau jahe merah, kapulaga, cengkeh, secang, daun jeruk purut, dan terkadang ditambahkan daun pandan agar aromanya lebih harum.

Cara membuat bir pletok tergolong mudah. Campurkan semua bahan ke dalam satu kuali besar berisi air, lalu rebus sampai mendidih. Setelah itu, masukkan gula merah secukupnya, lalu didihkan kembali. Setelah bahan tercampur sempurna, bir pletok siap didinginkan untuk kemudian disaring sebelum dihidangkan. Mau disajikan selagi hangat atau dingin, itu perkara selera. Bambang bahkan melakukan inovasi baru dengan menambahkan satu scoop es krim vanila ke dalam segelas bir pletok dingin. “Biar lebih menarik minat masyarakat. Dengan begini, anak-anak juga akan tertarik untuk mencoba,” ujarnya.

Tak ada salahnya sesekali menyempatkan diri mencoba bir halal asli Betawi ini. Menjelajah ke masa lampau bersama segelas bir pletok tak akan menggerogoti jiwa modern Anda. Mencecap manis, hangat, dan sesekali pedasnya sejarah negeri yang kaya rempah ini bisa jadi cara yang mengenangkan untuk lebih mengenal dan mencintai nusantara, dibanding hanya memasang ikon merah-putih di avatar jejaring situs sosial Anda .

Foto: Rici Linde
Publikasi: Esquire Indonesia edisi April 2010.

Happy Wurst-day!

Cara instan menikmati Jerman.

Jika warga Jerman hanya diperbolehkan mengonsumsi dua hal dalam hidupnya, mungkin tanpa pikir panjang mereka akan menjawab sosis dan bir. Dalam menu harian, sosis diposisikan sebagai lauk inti, tak ubahnya ayam bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Tetap terasa nikmat, meski disantap pada pagi, siang, atau malam. Meski umumnya terbuat dari daging sapi, pilihan sosis (wurst) kini semakin beragam dengan adanya sosis ayam dan sosis babi. Selain itu, Jerman juga terkenal dengan sosis hati (liverwurst) dan –yang terdengar aneh bagi sebagian orang adalah sosis darah (blood sausages), atau yang kerap juga disebut sebagai black pudding.

Selain jenisnya yang beragam, proses pembuatannya pun variatif, mulai dari dikeringkan, diberi asap, hingga dibumbu kari. Tak banyak pula yang tahu bahwa secara tradisional, daging yang telah diolah kemudian dibungkus dengan cara memasukkan ke dalam usus hewan yang telah dibersihkan. Namun karena produksi sosis kini telah didominasi oleh industri, maka atas nama efisensi, bungkus alami tersebut diganti oleh kemasan plastik. Bahan lain yang juga kerap digunakan adalah kolagen dan selulosa. Sedangkan sosis yang tidak menggunakan bungkus biasanya dijual dalam kemasan kaleng dan toples.

Bonanza Wurst Platte

Salah satu menu sosis yang dapat Anda coba adalah Bonanza Wurst Platte. Menu ini terdiri dari tiga pilihan sosis (daging sapi, ayam, dan babi) yang dapat Anda variasikan. Ketiganya disajikan dengan cara digoreng dan direbus, lengkap dengan dua jenis side dish yang umumnya berupa kentang panggang dan sauerkraut (kubis cincang yang diberi bumbu masam). Agar lebih nikmat, Anda dapat pula menambahkan mustard.

“Coba datang kemari saat perayaan Oktoberfest. Suasana ‘Jerman’-nya sangat kental. Selain dapat melihat tarian dan nyanyian tradisional, Anda juga dapat menikmati bir dan sosis sepanjang malam!” ujar Elizabeth, humas bar dan resto khas Jerman di daerah Kemang, Die Stube. Ia tak berbohong, karena terlepas dari embel-embel tradisional yang menyertainya, Oktoberfest yang jatuh pada akhir September hingga awal Oktober adalah perayaan masa panen yang ditandai oleh pesta-pora. Terdengar menyenangkan? Tentu saja. Karena untuk dapat menikmati momen akbar ini, syaratnya cuma tiga: bir, sosis, dan semangat pesta semalam suntuk!

SOSISOLOGI

  • Bierschinken: sosis berukuran besar dengan potongan ham dan kacang pistachio.
  • Bierwurst: sosis bertekstur kasar yang telah diberi perasa juniper berry dan kapulaga.
  • Blutwurst: sosis yang dibuat dengan campuran darah hewan. Biasa disebut juga sebagai black pudding.
  • Bockwurst: melalui proses pengasapan, sosis ini biasa dibuat dari daging lembu muda pilihan, dan dibumbui daun peterseli dan bawang putih. Biasa disajikan pada musim semi dengan bir Bock sebagai pasangan sempurna.
  • Bratwurst: jangan tertipu tampilannya yang pucat. Terbuat dari daging pilihan (umumnya lembu muda dan babi) dengan campuran rempah-rempah seperti jahe dan pala, sosis ini dapat Anda santap dengan dimasak terlebih dahulu.
  • Braunschweiger: sosis hati yang diberi campuran telur dan susu. Paling diminati diantara jenis sosis hati lainnya.
  • Frankfurter: termasuk jenis yang paling terkenal. Umumnya terbuat dari potongan daging babi yang dibumbui garam, lalu diasapkan.
  • Knockwurst; knackwurst: biasa disajikan dengan cara dipanggang dengan bumbu tambahan berupa bawang putih. Hidangan tambahannya adalah sauerkraut.
  • Wienerwurst: dipercaya sebagai inspirasi American frankfurter, umumnya terbuat dari daging sapi dan babi yang dibumbui ketumbar dan bawang putih.
  • Weisswurst: nama lainnya sosis putih (white sausage). Tampilannya pucat, dan biasa dihidangkan pada saat Oktoberfest dengan rye bread, mustard, dan tentunya bir.
 
Foto: Yus GS, Getty Images.
Publikasi: Esquire Indonesia edisi Maret 2010