Bali di Balik Lensa

 

 

Sebuah dokumentasi spiritual selama lima tahun

Tak banyak yang tahu siapa John Stanmeyer. Namanya tak sepopuler rekannya, James Nachtwey, pewarta foto yang yang cerita hidupnya telah difilmkan oleh Christian Frei dalam War Photographer pada 2001 silam. Layaknya Edhie Sunarso, orang-orang lebih mengenal Patung Dirgantara (Pancoran) dan Patung Pembebasan Irian Barat (Lapangan Banteng), namun tanpa banyak yang tahu bahwa ia lah pencipta patung-patung tersebut. Begitu pula dengan John, yang karya fotonya kerap kita lihat di berbagai media, termasuk yang terpampang di sampul majalah Time dan National Geographic.

Kini, pewarta foto yang sempat menetap di Canggu, Bali, selama lima tahun, menerbitkan buku fotografi berjudul Island of the Spirits yang memuat 56 foto hitam-putih tentang sisi spiritual masyarakat Bali. Buku yang ditulis oleh Anastasia Stanmeyer tersebut menampilkan hasil bidikan John menggunakan kamera lomo merek Holga. Lebih lanjut soal isi buku, simak wawancara singkat dengan John mengenai buku fotografinya tersebut.

 

Apa tujuan Anda membuat buku fotografi tentang Bali?
Saya ingin mereka yang membacanya bisa belajar sesuatu, bukan sekadar membeli coffee-table book biasa. Saya khawatir apakah anak-anak Bali bisa berbahasa daerah ditahun-tahunmendatang.Masalahtradisi danbudayasamapentingnyadengan mengkhawatirkan soal ekonomi, politik, dan masalah besar lainnya.

Mengapa Anda memilih penerbit lokal?
Saya memilih penerbit Afterhours karena ingin buku ini diterbitkan dan diedarkan di Indonesia. Buku ini tentang Bali. Saya ingin masyarakat Indonesia membacanya dan sadar akan kekayaan tradisi yang mereka miliki.

Apa spesialnya sebuah Holga dibandingkan kamera yang biasa Anda gunakan?
Banyak yang menganggap remeh kamera seharga 25 dolar AS (sekitar 250 ribu rupiah) ini. Tapi, dengan kamera plastik ini saya seakan berpijak di masa kini dan masa lampau sekaligus. Selama mengerjakan proyek ini, saya menggunakan lima kamera.

Apakah ada alasan khusus Anda memilih foto hitam-putih?
Saya tidak ingin makna penting foto- foto saya teralihkan oleh warna-warna yang dihadirkan foto berwarna. Ini dokumentasi yang berbeda, yang ingin menampilkan betapa spesial kekuatan tradisi yang mereka (masyarakat Bali –red) miliki, yang sayangnya terancam oleh pengaruh dari luar.

Mana yang lebih Anda senangi, memotret perang atau soal budaya seperti yang Anda lakukan dalam buku ini?
Saya tidak suka meliput perang karena begitu banyak manusia-manusia lemah. Terlalu banyak kesedihan dan kesengsaraan.

 

 

Island of the Spirits
28 x 28 cm
144 pages
Matte Paper, Hardcover
Reeves Sensation Tradition 220 gsm
Coated Matte 150 gsm
Foto: Evan Praditya
Publikasi: Esquire Indonesia edisi Oktober 2010


*Catatan penulis:
Terjadi perubahan minor pada artikel ini, yaitu di paragraf pembuka.

Satir Metropolitan

 

 

Duo di balik kesuksesan Kartun Benny & Mice: Benny Rachmadi dan Muhammad Misrad.

TITIK NOL: JAKARTA

Kedekatan keduanya bermula saat sama-sama berkuliah di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) pada 1993. Sewaktu kuliah, Benny dan Misrad “Mice” kerap membuat kartun dan dijadikan majalah dinding. Lekatnya Benny dan Mice sebagai ikon kartunis yang mengangkat parodi kehidupan Jakarta muncul saat mereka meluncurkan buku kartun Lagak Jakarta. Mengapa Jakarta? Mice punya jawaban simpel, “Karena kami berdua tinggal di Jakarta. Kami nggak berani ngomongin Bandung karena kami nggak tinggal di situ.” Mice memang asli Jakarta, sementara Benny dari Samarinda. “Warga pendatang tampaknya justru cenderung lebih peka dibandingkan orang Jakarta sendiri yang masa bodoh karena menganggap segala sesuatunya sudah biasa,” jelas Mice. Pada 2003 mereka mendapat tawaran dari sebuah surat kabar nasional untuk menjadi kartunis tetap. Hingga kini, keduanya secara rutin mengisi kolom kartun Benny & Mice di Kompas edisi Minggu.

Mungkin banyak yang tidak tahu kalau kartun yang kita nikmati tiap minggunya itu dikerjakan secara bergantian oleh Benny dan Mice. “Kita menggambarnya bergiliran. Misalnya minggu pertama saya, minggu kedua Benny. Kalau ada yang sakit atau sedang ke luar kota, yang lain menggantikan.” jelas Mice.

 

SUMBER INSPIRASI

Kuatnya karakter kartun mereka tak lepas dari proses observasi yang mereka lakukan sebelum menggambar. Sesekali mengobrol sekadarnya dengan orang-orang sekitar hingga memotret. Memilih masyarakat golongan menengah ke bawah sebagai objek kesukaan misalnya, merupakan hasil dari upaya itu. “Golongan ini paling fleksibel, bisa naik ke golongan atas, bisa juga ke bawah. Tapi jadinya nanggung, mereka nggak mampu mengikuti gaya hidup golongan atas. Makanya sering terjadi misplaced dan kelakuan norak lainnya,” jelas Mice. “Bocoran” lain tentang resep sukses menjadi seorang kartunis keluar dari mulut Mice. “Mudah saja. Buatlah cerita yang membumi, tidak usah yang terlalu tinggi. Target utama adalah masyarakat umum, bukan sesama kartunis.” 

“Lebih sering menjadi pembicara seminar di FISIP dibandingkan di Fakultas Seni Rupa dan Desain.”

 

BUAH KESUKSESAN

Benny dan Mice kini sudah memetik hasil kejelian dan kerja kerasnya. Kesuksesan mereka mengangkat satirnya kehidupan Jakarta ke dalam bentuk kartun tidak tanggung-tanggung. “Dalam satu bulan buku kami bisa terjual sebanyak 25 ribu eksemplar. Sementara penerbitan standar, cetakan pertama sebanyak tiga ribu dan diberi batas waktu hingga enam bulan agar habis,” jelas Benny tanpa bermaksud sombong. Duo “kocak” ini pun mendadak tenar sehingga kerap diundang untuk menjadi pembicara di berbagai seminar. Hanya mereka cukup heran, pihak pengundang justru banyak dari pihak jalur pendidikan sosial. “Lebih sering menjadi pembicara seminar di FISIP dibandingkan di Fakultas Seni Rupa dan Desain,” jelas Benny.

Mereka tentu tidak mau terlalu ambil pusing terhadap masalah ini. Dunia kartun sudah menjadi tempat yang nyaman bagi Benny dan Mice. “Kartunis itu enaknya bisa kerja di rumah. Gambar tinggal dikirim via e-mail. Jadi nggak perlu bermacet-macet ria,” seloroh Benny.

Keduanya sepakat masih akan terus mengembangkan karyanya, termasuk kemungkinan kartun Benny & Mice dalam karya 3D atau visual bergerak. “Ada juga yang menawarkan untuk dijadikan sinetron,” ungkap Benny. “Tapi ya nggak mungkin. Kalau dalam bentuk animasi masih mungkin,” sambungnya. Yang pasti, kondisi sosial masyarakat Jakarta masih akan terus menjadi tema utama duo ini. Jakarta adalah tema yang tidak akan ada habisnya. “Teknologi, tren dan perilaku orang berkembang terus. Apalagi kalau negaranya belum beres-beres. Kalau negaranya “beres”, sedikit yang bisa diangkat bukan?” jelas Mice. Yang ini bisa jadi jawaban melucu atau memang serius.

 

Foto: Eddu Enoary Eigven
Ilustrasi: Benny & Mice
Publikasi: Esquire Indonesia edisi November 2009

Catatan penulis: 

Sejak 18 Juli 2010, Kompas berhenti memuat “Kartun Benny & Mice”. Sebagai gantinya, Mice akan melanjutkan membuat kartun sendiri dalam “Mice Cartoon”. Hingga kini, tidak ada yang tahu sebab “perceraian” mereka. Saya sempat bertanya saat bertemu dengan Benny. Ia cuma menjawab singkat “Nggak cerai kok, cuma pisah ranjang,” lalu melengos pergi.

Berikut edisi terakhir “Kartun Benny & Mice”  yang terdiri dari dua bagian, edisi pertama (27 Juni 2010, sumber: TamtomoVision) dan edisi ke dua (4 Juli 2010). 

Kartun Benny & Mice edisi 27 Juni 2010
Kartun Benny & Mice edisi 4 Juli 2010

Dan ini bagian-1 “Mice Cartoon” edisi pertama (18 Juli 2010) dan edisi ke dua (25 Juli 2010):

Mice Cartoon #1
Mice Cartoon #2

Kapok Berurusan dengan Pemerintah

Ketika ditemui di tenda solidaritas Pedagang Barito, ibu beranak satu ini sedang mengobrol dengan teman-teman sesama pedagang yang senasib dengan dirinya.

 

Meskipun sudah lewat lebih dari seminggu, kejadian penggusuran yang terjadi dini hari itu menyisakan trauma mendalam bagi Mira dan teman-temannya, terutama para perempuan. Ia melihat sendiri bagaimana  ibu-ibu yang sedang duduk menghalangi para satpol yang berusaha ingin melakukan penggusuran, menginjak-injak mereka dengan memakai sepatu lars. “Padahal kita cuma mau aksi damai, nggak pakai senjata. Ibu-ibu yang ada di barisan depan juga cuma bawa bunga!” jelasnya emosi.

Perempuan kelahiran Banda Aceh empat puluh tahun silam ini menyesalkan sikap Pemda DKI yang terkesan bodo amat dan tak mau mendengarkan suara warganya. Padahal Pasar Barito tak hanya tempat mencari nafkah bagi bara pedagang, tapi banyak memori tersimpan seiring berjalannya waktu. Asal tahu saja, Pasar Barito sudah ada sejak tahun ’70-an, dan kini yang berdagang disana sudah memasuki generasi kedua.

Meskipun harus mengalami kejadian yang tak mengenakkan, Mira tetap mencintai Jakarta, kota yang ia jadikan tempat tinggal sejak berusia dua tahun. Mira juga pernah menetap di Bali untuk beberapa waktu, namun ia tidak betah. Karena menurutnya, masih lebih enak tinggal di ibukota, semua fasilitas tersedia.

Kemacetan parah di ibukota meresahkan banyak orang, namun tidak begitu bagi Mira. Menurutnya itu sudah menjadi konsekuensi bagi kita yang memutuskan untuk tinggal di kota metropolitan. Lantas, apa hal yang tidak ia suka dari Jakarta? Dengan cepat dan tegas Mira menjawab, “Birokrasi pemerintahnya yang saya nggak suka! Saya kapok berurusan sama pemerintah. Nggak lagi-lagi deh!”

 

Publikasi: Majalah Area #104 (6Februari 2008)

Bersepeda Demi Anak Cucu

Perintis Komunitas Bike to Work

 

.

Sebuah rumah dua lantai di  bilangan Tebet, Jakarta, disulap menjadi sebuah firma arsitektur. Semuanya tampak biasa, kecuali dua buah sepeda lipat yang menghiasi salah satu sudut ruangan. Toto Sugito pemilik sepeda itu. Tak perlu heran, karena ia adalah ketua umum komunitas Bike to Work (B2W).

Lima tahun sejak didirikan, komunitas yang dipimpinnya terus menggalang usaha agar semakin diterima oleh warga ibukota. Menurut pria berkacamata ini, pada awalnya kegiatan B2W adalah berkumpul di Senayan sepulang kantor, berkeliling sepeda ke ruas-ruas jalan protokol, lalu membagikan flyer. Tapi kemudian ia sadar, komunitas ini tak akan beranjak kemana-mana dan mencapai tujuan yang lebih besar jika tidak diformalkan menjadi organisasi. Kepengurusan Bike to Work secara formal baru terbentuk tahun 2006. Setelah sempat dilakukan reorganisasi, Toto pun didaulat menjadi ketua umum hingga sekarang.

“Liberalnya” syarat keanggotaan membuat B2W dilirik banyak kalangan. “Anggota berasal dari berbagai kalangan, mulai dari office boy hingga CEO. Tidak ada gap dan brotherhood-nya luar biasa,” ujarnya. B2W tak semata-mata menggalang anggota kantoran, namun juga semua individu yang telah membuat keputusan untuk menekan tingkat polusi udara dengan tidak menggunakan kendaraan bermotor. “Semoga bisa menjadi kebiasaan hidup, karena sepeda adalah moda transportasi alternatif yang ramah lingkungan. Tak perlu bike to work, bisa juga bike to school, campus, atau bahkan bike to supermarket. Intinya, bike to go,” terang pria yang sehari-harinya menjabat sebagai Managing Director di firma arsitektur Anggara Architeam. Hasilnya, anggota B2W kini mencapai 20 ribu orang yang tersebar di seluruh Indonesia.

Anggota B2W bisa semakin menggelembung dengan terbitnya Undang-Undang No. 22/ 2009 tentang Lalu-lintas dan Angkutan Jalan yang mencantumkan hak-hak para pesepeda. “Ini sesuatu yang kami perjuangkan. Tak hanya menjadi prestasi B2W, tapi juga prestasi seluruh pesepeda,“ jelasnya. Salah satu hak pesepeda yang tercantum adalah, “Pesepeda berhak atas fasilitas pendukung keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran dalam berlalu lintas.” Dengan perlindungan legal tersebut, Toto dan pesepeda lainnya merasa lebih tenang dan aman memacu kendaraan roda dua mereka di jalanan ibukota.

Toto tak cepat berpuas diri. Kini ia sedang mengusahakan tersedianya jalur khusus sepeda di ibukota. Ia mengaku telah melakukan komunikasi dengan Dinas Perhubungan DKI. Tahap awal dan yang paling memungkinkan adalah berbagi lahan trotoar dengan pejalan kaki, Ia pun punya harapan agar di setiap bantaran kali dapat dibangun jalur sepeda, seperti yang sebentar lagi direncanakan hadir di sepanjang Banjir Kanal Timur. “Jika ditambah pohon-pohon rindang, waduh enak sekali bersepeda di sana!” timpalnya bersemangat.

Kecintaan Toto bersepeda memang bukan lagi semata aktivitas “sampingan”. Dunia ini menurutnya bukan hanya untuk kehidupan generasi sekarang, tapi juga generasi mendatang. “Kita tidak boleh egois. Sebanyak apapun uang yang kita miliki, kita tidak bisa membeli beratus-ratus hektar lahan dengan cadangan oksigen bersih untuk diberikan kepada anak cucu,” ujarnya. Sembari meniru ucapan ulama Aa Gym, Toto yang terpilih sebagai Tokoh Perubahan 2009 oleh salah satu surat kabar nasional ini pun berbagi pesan, “Mulailah bersepeda untuk diri sendiri, mulai dari jarak terdekat, dan mulai dari sekarang. As simple as that.

Foto: Adi Nugroho
Publikasi: Esquire Indonesia edisi Maret 2010.
 

 
 
*Catatan penulis:
Tulisan ini merupakan advertorial Nokia E72. Selain Toto Sugito, produsen ponsel terkemuka tersebut juga memilih beberapa figur publik lain untuk mewakili produknya, antar lain Pandji Pragiwaksono, Daniel Mananta, dan Iwan & Indah Esjepe.

Swasembada Pangan dan Kemandirian Negara

Bayu Krisnamurthi
(Wakil Menteri Pertanian)

Loyalitas Profesi
Bayu sempat dibuat bingung oleh putrinya yang ”meledek” bahwa definisi deputi dan wakil sama saja. Sebelum menjabat wakil menteri, pria kelahiran 45 tahun silam ini memang menjabat sebagai Deputi Menteri Koordinator Perekonomian, Bidang Pertanian dan Kelautan. Bayu punya jawabannya. ”Bedanya hanya dalam nuansa. Deputi Menko dimensinya makro, sehingga tidak masuk dalam teknis dan detail. Sedangkan wakil menteri, otomatis saya harus masuk ke dalam teknis detailnya,” papar Bayu. Kecintaan yang besar terhadap pertanian membuatnya tak jenuh mengajar di almamater tercinta, Institut Pertanian Bogor sejak tahun 1988. “Kita harus memperkuat SDM. Jangan sampai para sarjana pertanian bekerja di sektor yang jauh dari pertanian itu sendiri,” ujarnya singkat.

  • Ketahanan pangan. Bukan serta-merta dengan menghentikan impor. Yang paling penting adalah kemandirian dan tidak tergantung kepada negara lain dalam mengambil keputusan, termasuk soal impor atau tidak impor.
  • Swasembada. Ada lima bahan yang masuk ke dalam kategori swasembada, antara lain beras, jagung, kedelai, gula, dan daging sapi. Kita sudah berhasil melakukan swasembada beras dan jagung. Yang masih membutuhkan kerja keras adalah daging sapi, kedelai, dan gula. Namun kalau semua daerah berpikir untuk berswasembada, bisa bubar republik ini! Saudara-saudara kita di NTT memiliki kendala di sumber daya alam, karenanya mereka bergantung pada bahan pangan dari Jawa Timur. Perdagangan antarpulau di Indonesia justru merekatkan masyarakat.
  • Ekspor beras. Kita boleh bangga karena sekarang kita sudah mulai ekspor beras. Jumlahnya memang belum banyak, baru beberapa ratus ton. Tapi ini sebuah kemajuan. Kita bahkan juga ekspor ke Amerika. Mereka cenderung mengimpor jenis beras yang tidak mereka miliki.
  • Kebijakan tarif ekspor. Pemerintah bisa saja membebankan tarif impor. Tapi harus cermat, jangan sampai kasus tarif jeruk Kino terulang. Dulu, demi melindungi jeruk lokal, jeruk Kino yang masuk ke Indonesia kita berikan tarif. Akibatnya apa? Pakistan “membalas” dengan memberikan tarif ekspor CPO (Crude Palm Oil) kita. Jeruk Kino nilai impornya kecil, bandingkan dengan ekspor CPO kita yang hingga 1 juta ton!
  • Branding dan marketing. Air susu ibu (ASI) is the best product with bad marketing. Masih banyak ibu-ibu yang merasa cukup memberikan asupan susu kaleng pada anaknya. Sama halnya dengan produk lokal yang kalah karena faktor marketing dan branding. Tak heran jika pepaya dan jambu Bangkok begitu terkenal, padahal 95% didatangkan dari Indonesia. Itu karena pencitraan “Bangkok” sudah melekat kuat.
  • Pembatasan produk luar. Pemerintah tidak bisa membatasi produk luar yang masuk, karena biasanya restoran atau supermarket ditopang oleh investor luar atupun dalam negeri. Ketika mereka tahu ada peraturan semacam itu, mereka bisa saja mundur.
  • Investasi pertanian. Masih sangat minim, termasuk di antaranya infrastruktur dan sistem irigasi. Sekian ribu hektar beralih fungsi dan banyak saluran irigasi yang dulu dibangun telah hilang. Kedua, kita juga harus melakukan reinvestasi di bidang riset dan sumber daya manusia.
  • Pencegahan kelaparan. Tanggung jawab moral terbesar terletak di masyarakat sekitar. Sunah Rasul menyatakan, berdosa kita jika tidur dalam keadaan kenyang namun ada tetangga yang kelaparan. Namun pemerintah memang seharusnya membangun sebuah sistem yang mampu memastikan rakyatnya kenyang.
  • Target pencapaian Millennium Development Goals (MDGs). Belum secepat yang diinginkan, tapi sudah ada kemajuan. Sepanjang periode 2008-2009 angka kemiskinan berkurang sebanyak 4 juta. Meskipun 3 juta kemiskinan baru muncul akibat banyak faktor, salah satunya bencana alam.

 

Foto: Hary Subastian
Publikasi: Esquire Indonesia edisi Januari 2010


Catatan Penulis:

Artikel ini merupakan bagian dari Artikel Tema berjudul “Janji & Visi Wakil Menteri”. Selain Bayu Krisnamurthi, ada empat profil wakil menteri lain , diantaranya Bambang Susantono (Wamen Perhubungan), Hermanto Dardak (Wamen Pekerjaan Umum), Alex SW Retraubun (Wamen Perindustrian), dan Mahendra Siregar (Wamen Perdagangan). Kelima wakil menteri ini resmi dilantik pada 11 November 2009 oleh Presiden berdasarkan Keppres No.111/M/2009.