…dan dunia adalah setumpuk taik kucing

Photo by Kevin Carter (1960 – 1994)

“Hidup memang memabukkan. Tapi barangkali mabuk itu perlu, ketidaksadaran kadang-kadang juga penting. Aku tidak bisa membayangkan, apa jadinya kalau kita harus terus-menerus hidup dengan kesadaran, bahwa kehidupan ini cuma sementara, kebahagiaan hanya sekejap, dan dunia adalah setumpuk taik kucing.”

JAZZ, PARFUM & INSIDEN, hlm 127, Seno Gumira Ajidarma

Enyahkan Ponselmu, Mari Bercinta!

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Sesederhana ponsel kita dulu
Hanya pesan dan suara
yang saling bertukar lewat udara
Bukan tweet ataupun retweet

Aku ingin mencintaimu dengan rahasia
Serahasia obrolan tengah malam waktu itu
Cuma berdua
Tanpa tersebar di timeline teman dan pengikut

Aku ingin mencintaimu sepenuhnya
Seperti rasa yang gagal disampaikan abjad
kepada tombol “enter” dan “cancel
Atau rona wajah yang urung muncul
di layar ponsel

Aku ingin mencintaimu biasa saja
Sebiasa semburat jingga di kala senja
Sembari tukar cerita,
lengkap dengan kita yang bertatap muka

Aku ingin mencintaimu
seperti aku yang mencintaimu dulu
Menggebu-gebu
Tanpa malu
apalagi ragu

.

..

*) Puisi ini merupakan improvisasi dari puisi “Aku Ingin” karya Sapardi Djoko Damono. Sebuah respon usil atas hubungan dua insan pada zaman sekarang yang turut berubah seiring dengan meningkatnya penggunaan media sosial Twitter sebagai sarana berkomunikasi. Perlahan tapi pasti, teknologi dapat membunuh romansa. Karena jangan-jangan, saat duduk berhadapan atau bersebelahan, kita justru lebih sering menatap layar ponsel ketimbang wajah pasangan sendiri.

Gambar dari sini.

Di Namamu Ada Kelaminku

bakmi

Sempat heboh beberapa waktu lalu, sebuah foto yang menyebar dari milis ke milis, dan pada akhirnya beredar luas di Facebook: sebuah spanduk rumah makan bertuliskan, “Bakmi Pak Memek Cebongan Pasar”.

Bagi orang yang pertama kali melihat foto tersebut, pasti menyangka bahwa itu hanyalah sebuah rekayasa digital yang dimaksudkan sebagai candaan. Banyak yang menganggapnya lucu, namun tak sedikit pula yang mencibir dengan alasan tak senonoh. Saya sendiri memang belum mengecek langsung ke Pasar Cebobangan di daerah Sleman, Yogyakarta itu, untuk membuktikan keberadaan rumah makan bakmi tersebut. Namun menurut pengakuan beberapa anggota mailing list(milis), ternyata rumah makan bakmi itu benar-benar ada! Mereka bahkan memberi penilaian tentang rasa bakminya; mulai dari biasa saja, lumayan, sampai maknyus.

Lucu ya, betapa sebuah nama dapat menarik perhatian banyak orang, sekaligus ironis karena nama yang dimaksud tidak umum digunakan sebagai nama seseorang, bukan dalam arti sebenarnya. Karena sesungguhnya memang tak ada yang negatif pada sesuatu yang diberikan Sang Pencipta kepada hambanya. Ini yang menarik dari sebuah kata “memek”. Arti formal menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah “merengek-rengek”, “merepek”. Namun ‘memek’ juga memiliki arti lain dalam bahasa pergaulan sehari-hari (slang), yaitu vagina atau alat kelamin perempuan.

Saya jadi penasaran dengan ‘proses kreatif’ para orangtua dalam memberikan nama kepada anaknya. Apa arti nama seseorang sebenarnya? Atau jangan-jangan, Shakespeare benar mutlak dengan ungkapannya yang mendunia, “Apalah arti sebuah nama?”

Layaknya karya seni rupa, saya rasa pembuatan nama juga melibatkan proses yang disengaja agar mengandung makna-makna tertentu. Pembuatan nama sedikit-banyak dipengaruhi latar belakang budaya orangtua dan suasana zaman yang mempengaruhinya. Tak heran jika terjadi perbedaan karakter nama-nama individu pada setiap dekade. Ada nama-nama yang bersifat tradisional, dan ada pula nama-nama yang mengandung semangat kontemporer. Maksudnya, ada orangtua yang bangga memberikan nama yang mengandung unsur tradisi kesukuannya, namun ada pula yang memberikan nama yang terinspirasi dari hal-hal yang digemari atau sedang tren saat itu.

Berasal dari keluarga Betawi aseli—ayah dan ibu saya memang asli Betawi—saya terlahir dengan nama Deasy Elsara. Tidak ada Betawi-Betawinya sama sekali, memang, makanya kerap diledek Betawi KW-1. Apalagi saya tinggal di Kelapa Gading, bukan Condet atau Cinere yang terkenal sebagai ‘kampungnya orang Betawi’. Setelah dipikir-pikir, orangtua saya tidak pernah memberikan nama yang Betawi-esque kepada kelima anaknya. Semuanya praktis berdasarkan makna tertentu yang terinspirasi dari hal-hal yang digemari saat itu. Menurut pengakuan ibu, nama Elsara adalah nama tokoh yang terdapat dalam sebuah buku kesukaannya. Sayangnya ibu lupa judul buku tersebut. Dan kalau dicari artinya lebih lanjut, ‘Sara’ berasal dari bahasa Hebrew (Sarah) yang berarti putri raja. Atau bisa juga berarti “kebahagiaan murni” jika ditilik dari nama Saaraa dalam bahasa Afrika.

Contoh penamaan seseorang berdasarkan identitas suku adalah Pangeran Edwin Bonardo Immanuel Hasian Siahaan. Mahasiswa semester 6 ini terlahir dari keluarga Batak. Jika diartikan secara keseluruhan, namanya berarti ‘Pemimpin yang dihormati dan selalu berada dalam lindungan Tuhan’. Seperti kita tahu, orang Batak memiliki tradisi memberikan nama yang panjang bagi anaknya, karena sekaligus mengandung nama baptis (bagi umat Kristiani) dan marga. Hal ini juga dikeluhkan oleh Pangeran, karena menurutnya akan merepotkan orang-orang bernama panjang seperti dirinya saat mengisi kolom nama pada lembar ujian format komputer yang mengharuskan pesertanya menghitamkan bulatan! Oleh karena itu ia menyingkat namanya menjadi Pangeral Immanuel Siahaan untuk keperluan sehari-hari.

Lain lagi dengan Muhammad Maskur Tamanyira. Namanya mengandung identitas kesukuan dan keagamaan. Terlahir dari ayah berdarah Tidore, Maskur menyandang nama yang cukup bermakna—atau agak ‘berat’ menurut istilahnya. Tamanyira adalah marga Tidore yang konon merupakan nama orang kepercayaan Sultan Nuku. Muhammad diambil dari nama Rasul yang menjadi panutan umat Muslim sepanjang jaman. Jadi terdengar wajar jika Maskur merasa sedikit ‘terbebani’ dengan amanah yang terkandung dalam namanya.

Pemberian nama yang murni terinspirasi dari hal kegemaran seseorang terjadi pada anak pembantu rumah tangga seorang rekan ibu sahabat saya. Ia diberi nama Keisha, sayangnya saya lupa nama lengkapnya. Tak perlu kamus arti nama bayi, atau repot-repot merunut pada tradisi keluarga, cukup menyalakan televisi, pindah ke saluran yang menayangkan sinetron, danvoila, calon nama anak didapatkan dalam sekejap! Asal tahu saja, Keisha adalah judul sinetron yang sempat ditayangkan di Indosiar beberapa waktu lalu pada saat prime time. Kurang prestisius apa coba!

Tak dapat dipungkiri bahwa nama adalah identitas personal seseorang. Maka tak heran jika orangtua berusaha memberikan nama terbaik bagi anak-anaknya. Dalam Sosiologi sendiri, identitas adalah simbolisasi ciri khas yang mengandung pembedaan dari individu atau kelompok lain. Identitas bisa berasal dari sejarah, cita-cita, sikap, perilaku, kebiasaan, dan lain-lain. Sebagai sebuah definisi diri, identitas bisa didapat dengan dua cara: diberi oleh orang lain atau oleh kita sendiri. Pelacakan identitas adalah upaya pendefinisian diri yang nantinya akan menerangkan siapa kita sebenarnya.

Tapi apakah lantas ketidak-Betawi-an nama saya mengurangi keaslian saya sebagai orang Betawi? Saya rasa tidak. Ke-Betawi-an saya tidak kalah kental jika dibandingkan dengan ke-Batak-an teman saya yang bernama Pangeran. Atau ketidak-Islami-an nama saya tidak semerta-merta menjadikan saya kurang beriman ketimbang teman saya, Maskur. Jadi saya percaya bahwa nama seseorang adalah sebuah doa atau harapan orangtuanya, yang kebetulan berasosiasi dengan banyak hal; identitas kesukuan dan keagamaan, ataupun inspirasi dari lingkungan sekitar. Pada tataran ini, ungkapan Shakespeare yang terkesan menyepelekan nama otomatis terbantahkan. Nama tak hanya sekadar satu-dua kata tak bermakna yang tertulis di kartu identitas. Ya kecuali kalau kalian adalah seorang narapidana yang bisa saja dipanggil berdasarkan nomor tahanan. Seperti Alexander De Large, tokoh utama dalam film lawas besutan Stanley Kubrick, Clockwork Orange, yang namanya ‘berubah’ menjadi 655321 saat dijebloskan ke dalam penjara.

Faktor sosial budaya seperti yang telah dipaparkan sebelumnya belum tentu berlaku juga dalam penciptaan nama panggilan seseorang. Karena biasanya, nama panggilan tercipta berdasarkan spesifikasi yang lekat kepada si empunya nama. Yang paling sederhana dan banyak dijumpai adalah penamaan berdasarkan ciri-ciri fisik. Misalnya saja “Kiting” untuk mereka yang berambut keriting, tambahan “-cil” dibelakang nama bagi mereka yang berbadan mungil, atau “Ndut” yang ditujukan kepada mereka yang bertubuh gendut.

Cara lain pemberian nama yang juga umum digunakan adalah memanfaatkan hobi atau kegemaran mereka. Saya punya teman yang dipanggil “Lontong” hanya karena saat masa orientasi SMA dulu, ia berteriak lantang di lapangan kepada temannya yang akan ke kantin, “Lontooong!”. Maksud hati cuma ingin menitip dibelikan lontong, namun apa daya, praktis sejak saat itu ia dikenal dengan nama panggilan “Lontong”! Contoh lain misalnya senior saya di SMA. Dulu—entah sekarang—ia dipanggil dengan sebutan “Ade Punk”. Ia memang terkenal sebagai penggemar berat musik punk, semakin jelas terlihat dari penampilannya yang cuek dan rambut mohawk tanggung. Kenapa saya bilang tanggung, karena saat itu urusan gaya-bergaya di sekolah mau tak mau pasti berbenturan dengan peraturan sekolah!

Lalu apa kira-kira makna di balik nama penjual bakmi di Pasar Cebongan, Sleman, Yogyakarta tersebut? Apakah itu hanya nama panggilan saja? Jika ya, siapa nama panjangnya? Dan sekali lagi, apa maknanya? Berhubung saya tak puas dengan hasil jawaban yang saya dapat di KBBI tadi, saya iseng-iseng kembali mencari arti namanya lewat situs http://www.indospiritual.com/index.php?p=19. Setelah memasukan sebuah nama yang cukup provokatif untuk dijadikan sebuah merk dagang itu, saya mendapatkan jawaban yang ternyata hasilnya tidak cukup provokatif alias biasa saja: “Memek” mengandung arti “Perasaan pada keadilan, Kesembuhan”. Bagaimana, masih kurang puas juga dengan hasil jawabannya? Kalau begitu silahkan datang langsung ke Pasar Cebongan dan tanyakan sendiri kepada si empunya nama!

*) Ditulis untuk newsletter #2 OK. Video COMEDY, 2009