Nikmati Selagi Lengkap

Mungkin begini yang ibu rasakan dulu. Ditinggal sendiri sama anak-anaknya setiap akhir minggu.  Bapak saya pun pernah meledek si mbak yang ikut-ikutan kelayapan di Sabtu malam. Katanya waktu itu kepada ibu, Nggak anak, nggak pembantu, semuanya pacaran! Kita jalan-jalan juga yuk, ma!” Saya yang waktu itu lagi pakai epatu dan bersiap mau pergi, cuma bisa terkekeh dan langsung cium tangan, lantas ngeloyor pergi. Meski dalam hati juga berkata, mama dan papa jalan-jalan saja, daripada bengong di rumah. Hehehe..

Malam ini, saya merasakan ditinggal sendiri. Bapak sedang kongkow di pos hansip bersama bapak-bapak lain, adik saya entah sedang kemana bersama teman-temannya sambil menunggu sahur, abang saya sudah kembali ke tempat kost, si mbak sudah pulang kampung tadi sore, dan ibu.. Ibu sudah bahagia di rumah abadinya. 🙂

Kesal? Tidak juga. Saya rasa ibu dan bapak dulu juga tidak kesal waktu kami tinggal kelayapan. Saya yakin mereka tahu bahwa hal ini akan terjadi. Salah satu konsekuensi menjadi orangtua. Suatu waktu, sang anak berhasil mengucap kata “ma-ma”, di lain waktu, ia pergi nonton dengan pacarnya.

Kalau dulu ibu saya menghabiskan malam dengan menonton televisi, sinetron tepatnya, maka apa yang saya lakukan di malam-yang-seharusnya-saya-memikirkan-akan-masak-apa-untuk-sahur-nanti-tapi-justru-asyik-nangkring-di-depan-komputer. Untuk yang satu itu, saya coba menerapkan konsep hidup spontan. Tadi sudah mengintip kulkas, persediaan bahan masakan untuk satu-dua minggu kedepan aman lah. Tinggal merayu mata dan badan agar satu niat dengan hati, supaya bisa bangun lebih awal untuk masak sahur.

Anyway, apa menu sahur kalian pagi nanti? Apapun itu, selamat menanti sahur bersama keluarga. Nikmati selagi lengkap. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *